Aku hanya lelaki yang jatuh cinta.
Jatuh berkali-kali dan tiada berganti.
Aku, kau dan Dia.
Aku hanya lelaki..
Tubuhku untuk dunia dan mindaku 'tuk Nanti.
Tiada tersisa untukmu selain rasaku.
Kukalungkan 'tuk hangatkan hatimu.
Aku hanya lelaki..
Terbang dan berlari tiada henti..
Walau tak kutemani..
Kuberi hati tuk hangatkan malammu.
Aku hanya lelaki..
Lidah terbata namun tubuh terbaca.
Walau tak kau sesali..
Biarkan Cintaku hadir untukmu..
Aku hanya lelaki..
Mata berpaling kesana kemari..
Kelamnya hari di nanti pagi.
Biarkan jalanku indahkan kelakmu.
Sungguh kau cintaku
Dan aku hanya lelaki.
Saturday, January 17, 2015
Jangan Pernah Mencoba
Jangan kau coba maknai dirimu dengan lainnya selainmu..
Hanya akan nodai hati dengan kehadiran inginmu.
Aku adalah rencong berkarat dalam dagingmu.
Aku adalah nila di susumu.
Aku adalah rebuk dalam darah.
Aku adalah dosa di jalanmu.
Jangan kau coba hindari sepi hatimu..
Biar Cinta kan datang bawamu kembali..
Dia adalah Yang Baik.
Dia adalah Yang Memperbaiki.
Dia adalah Yang Melihat.
Dia adalah Yang Memperlihatkan.
Jangan kau coba mengira dalam bimbang.
Kelak tanya buatmu terluka.
Baik bagiku, bukan berarti bagimu..
Baik bagimu, bukan berarti bagiku.
Kau paksa jua takkan ada yang mau..
Kau cari nestapa hanya tuk temani derita.
Jangan kau coba mencari ketiadaanmu..
Antara kau dan Dia tiada kau tahu.
Dia adalah yang kau cari.
JalanNya kan kau temui.
Buka matamu, saat mentari bersinar.
Cium kehadiranNya, Cintai Yang kau temui..
Cintai Dia!
Cintai Dia!
Cintai Dia!
Cintai kita!
Kau dan aku hanya daging yang kelak 'kan busuk.
Sementara Dia kekal nan abadi.
Jangan samakan denganmu.
Jangan pernah mencoba.
Jangan sekalipun mencoba!
Hanya akan nodai hati dengan kehadiran inginmu.
Aku adalah rencong berkarat dalam dagingmu.
Aku adalah nila di susumu.
Aku adalah rebuk dalam darah.
Aku adalah dosa di jalanmu.
Jangan kau coba hindari sepi hatimu..
Biar Cinta kan datang bawamu kembali..
Dia adalah Yang Baik.
Dia adalah Yang Memperbaiki.
Dia adalah Yang Melihat.
Dia adalah Yang Memperlihatkan.
Jangan kau coba mengira dalam bimbang.
Kelak tanya buatmu terluka.
Baik bagiku, bukan berarti bagimu..
Baik bagimu, bukan berarti bagiku.
Kau paksa jua takkan ada yang mau..
Kau cari nestapa hanya tuk temani derita.
Jangan kau coba mencari ketiadaanmu..
Antara kau dan Dia tiada kau tahu.
Dia adalah yang kau cari.
JalanNya kan kau temui.
Buka matamu, saat mentari bersinar.
Cium kehadiranNya, Cintai Yang kau temui..
Cintai Dia!
Cintai Dia!
Cintai Dia!
Cintai kita!
Kau dan aku hanya daging yang kelak 'kan busuk.
Sementara Dia kekal nan abadi.
Jangan samakan denganmu.
Jangan pernah mencoba.
Jangan sekalipun mencoba!
Luruh
Nanti kau kan tahu..
Nanti kau kan Mau..
Saat itu kau sudah tiada..
Saat itu kau kan Meronta..
Kelamnya matamu yang tiada bernyawa..
Seakan dunia tiada berarti..
Kamu tiba di saat itu dengan jemari penuh luka..
Sementara maknanya sudah luruh seperti asap..
Jangan sesali..
Bukan salahmu..
Ini hanya kehidupan..
Yang tak kau tahu arahnya..
Nanti kau kan Mau..
Saat itu kau sudah tiada..
Saat itu kau kan Meronta..
Kelamnya matamu yang tiada bernyawa..
Seakan dunia tiada berarti..
Kamu tiba di saat itu dengan jemari penuh luka..
Sementara maknanya sudah luruh seperti asap..
Jangan sesali..
Bukan salahmu..
Ini hanya kehidupan..
Yang tak kau tahu arahnya..
Friday, January 9, 2015
Bidadari Di Kesunyian
Dia tak pernah kusebut..
Mungkin terlalu dalam kusimpan..
Tak satupun 'kan tahu siapa..
Perannya pun takkan kau tahu..
Tak jua misteri yang ku ungkap..
Hanya sekadar pelik yang terucap..
Basahi malam dengan lembut mendayu..
Harumnya takkan kau tahu..
Jangan sambut aku..
Karena ku kembali hanya 'tuk pergi..
Jangan peluk tubuhku..
Karena hanya akan menjadi besi..
Semoga maafmu untukku..
Walau tiada, kau 'kan selalu ada..
Mungkin terlalu dalam kusimpan..
Tak satupun 'kan tahu siapa..
Perannya pun takkan kau tahu..
Tak jua misteri yang ku ungkap..
Hanya sekadar pelik yang terucap..
Basahi malam dengan lembut mendayu..
Harumnya takkan kau tahu..
Jangan sambut aku..
Karena ku kembali hanya 'tuk pergi..
Jangan peluk tubuhku..
Karena hanya akan menjadi besi..
Semoga maafmu untukku..
Walau tiada, kau 'kan selalu ada..
Thursday, January 8, 2015
Tempawan
Denting lonceng itu menggema di kepala..
Seakan nyata namun tak pernah ada..
Kata yang kau muntahkan hanyalah cambuk..
Sementara kau jilati remah di lantai..
Sungguh emosi ini meledak-ledak..
Beriring dengan nada yang kau sembunyikan..
Warnanya buatku semaput diantara duri-duri..
Namun terhindar dengan doa..
Tenggelamkan kepala dalam air..
Insang tumbuh di pipi..
Kau hempas ke udara..
Sayap muncul di punggung..
Jangan usik sendiriku dengan cintamu..
Karena kepalsuan tiada bertahan lama..
Seakan nyata namun tak pernah ada..
Kata yang kau muntahkan hanyalah cambuk..
Sementara kau jilati remah di lantai..
Sungguh emosi ini meledak-ledak..
Beriring dengan nada yang kau sembunyikan..
Warnanya buatku semaput diantara duri-duri..
Namun terhindar dengan doa..
Tenggelamkan kepala dalam air..
Insang tumbuh di pipi..
Kau hempas ke udara..
Sayap muncul di punggung..
Jangan usik sendiriku dengan cintamu..
Karena kepalsuan tiada bertahan lama..
Monday, January 5, 2015
Intermezzo
"You are not your body, you are the eye..
When you see the Spirit, you are free of the body..
A human being is an eye, the rest is just flesh and bones.
Whatever your eyes sees, that is what you are." (M VI: 811-12)
When you see the Spirit, you are free of the body..
A human being is an eye, the rest is just flesh and bones.
Whatever your eyes sees, that is what you are." (M VI: 811-12)
Akhirnya saya dapatkan buku ini, "A man is never too busy to get what he wants" gitu peribahasa sebenernya. Karena menarik bagi saya untuk mengenal pribadi Rumi dan pemahaman ke-sufiannya sampai saat ini, dari banyaknya kontroversi, hingga kesalahan paham atas ke sufiannya. Sebenernya buku ini saja tidak cukup untuk dijadikan bahan penilaian sedalam apa, kesufian seorang Jalaluddin Rumi untuk saya yang awam ini, meskipun dari judulnya menyatakan buku ini adalah sejatinya seorang Rumi. Jadi seandainya dari rekan pembaca ada yang ingin menjual buku ataupun hanya sekedar berbagi informasi tentang Sufisme seorang Rumi, bisa hubungi saya di alfian.regusto@gmail.com
Terima Kasih.
Thursday, January 1, 2015
Terayun
Ku terhempas di ayun bimbang semesta.
Jauhnya tak terkira di langit biru.
Tungku itu menyala.
Bagai wajan, isinya sudah meletup-letup.
Dipeluk dinginnya malam..
Diurap kasih tirani nan semerbak melati..
Andai fajar datang terlambat.
Tak jua terbuka gelapnya palung hati..
Jauhnya tak terkira di langit biru.
Tungku itu menyala.
Bagai wajan, isinya sudah meletup-letup.
Dipeluk dinginnya malam..
Diurap kasih tirani nan semerbak melati..
Andai fajar datang terlambat.
Tak jua terbuka gelapnya palung hati..
Subscribe to:
Comments (Atom)
