Sunday, April 28, 2019

1 Body, 5 Minds

Tubuhnya 1, tapi memiliki 5 macam gaya berpikir, mengapa demikian? saya mendapati sebagai orang indonesia yang kesaharian saya beberapa tahun ke belakang ini menggunakan bahasa indonesia formal dalam kesaharian saya, umumnya di dalam kesaharian saya menggunakan bahasa indonesia yang bercampur dengan istilah-istilah dan ekspresi bahasa daerah.
Saya lahir di Cirebon, Jawa Barat, sejak berumur 6 bulan sampai dengan saya berumur 7 tahun saya tinggal di Jakarta, setelah itu pindah lagi tinggal di cirebon hingga lulus SMA dan hingga saat ini menetap di Jakarta.

Yang menarik dari memiliki kemampuan berbicara dalam beberapa bahasa bagi saya adalah, saya bisa mengekspresikan lebih banyak hal dalam pikiran, dibandingkan dengan apa yang saya utarakan kepada lawan bicara saya,  boleh jadi hal ini dikarenakan alam bawah sadar saya menempatkan diri untuk bisa mengemukakan sesuatu yang mudah untuk dicerna oleh lawan bicara saya sesuai dengan bahasa yang digunakan saat perbincangan itu berlangsung, dan perlakuan ini mengalir begitu saja.

Saya memiliki kemampuan berbahasa Indonesia, Inggris, Jepang, Cirebon, Sunda, masing-masing dari kemampuan berbahasa yang saya miliki ini adalah aktif-pasif, karena koridor lingkungan saya dikelilingi oleh orang-orang sunda, saya masih aktif berkomunikasi menggunakan bahasa sunda, juga dengan kawan-kawan saya menggunakan bahasa cirebon, kesaharian saya di jakarta menggunakan bahasa Indonesia dengan orang-orang yang saya temui secara umum, dan komunikasi bisnis yang saya gunakan adalah bahasa jepang, juga bersurat bisnis dengan menggunakan bahasa inggris. Kemampuan berbahasa ini juga membuat saya memiliki fleksibilitas dalam menentukan selera saya terhadap budaya dengan kapasitas penilaian yang lebih luas, seperti dalam selera hiburan untuk memilih musik, film, bacaan, atau selera kuliner seperti makanan, minuman, camilan dan lain sebagainya.

Peristiwa hari ini cukup menarik dan baru saya sadari, dimana saya menonton film di bioskop "Captain Marvel" dengan salah satu kolega saya, ada beberapa hal yang tidak saya sadari dimana pada beberapa bagian film saya tertawa terbahak sementara di studio itu hening, memperhatikan respon saya terhadap apa yang kami tonton membuat kolega saya bertanya "Kamu tadi kenapa ketawa pas Fury bilang Marvelettes?" tanyanya kepada saya, saya jawab "Loh itu kan grup ikonik amerika tempo dulu. angkatan the supremesnya diana ross, the commodoresnya lionel richie?" saya berusaha meyakinkan diri kita memiliki frekuensi berpikir yang sama pada saat itu, "Emang kamu tau?" tanya dia lagi, "Ya tau, makannya ketawa..", dia sedikit heran walaupun tahu selera musik saya yang bisa dibilang kuno atau "Old School" untuk bisa mendapat diksi yang lebih keren terkait hal ini.

Yang juga membuat dia merasa aneh adalah ketika saya juga mengatakan "Aaa... Soukka, Soukka.." sebelum tertawa, ekspresi ini adalah respon langsung yang biasa saya gunakan untuk rekan bisnis saya dalam bahasa jepang sehari-hari, maksudnya adalah "Soudesuka-そうですか", biasa disingkat "Soukka" untuk ekspresi langsung, seperti "Oh, begitu ya?" kalau diartikan dalam bahasa Indonesianya, dan ekspresi-ekspresi seperti ini tidak biasa saya gunakan ketika saya berbicara menggunakan bahasa indonesia formal, kejadian ini mengalir begitu saja, terkadang saya juga tidak menyadari kebiasaan-kebiasaan saya yang seperti ini.

Namun memiliki kemampuan berbahasa lebih dari satu menjadi menarik ketika anda ditarik untuk memahami filsafat dari masing-masing istilah dalam bahasa tertentu, menjadikan anda memiliki kapasitas untuk bisa mengukur sesuatu dari sudut pandang yang di luar dugaan, dengan terlatihnya otak untuk memahami sesuatu yang kompleks dengan cara yang sudah disederhanakan.

Beberapa tahun lalu saya pernah berbincang dengan mendiang buyut saya, pada saat itu usianya 97 Tahun, saya menyebutkan kata "Salju" yang ternyata beliau tidak mengetahui arti kata tersebut, karena memang di Indonesia kata ini tidak umum digunakan dalam kehidupan masyarakat kita sehari-hari. Setelah saya jelaskan, bahwa salju adalah fenomena hujan butiran es yang lembut, beliau sejenak terdiam seolah membayangkan lalu bertanya "Apakah di Indonesia ada yang seperti itu? Karena kata itu baru kali ini didengar oleh saya, atau memang itu bahasa asing?" saya menjawab, "Fenomena alam seperti hujan salju di Indonesia hanya ada di puncak gunung jaya wijaya, irian jaya setahu saya buyut, dan memang bahasa ini sudah menjadi bahasa indonesia, namun saya sendiri belum tahu asalnya dari bahasa mana, mengingat bahasa Indonesia adalah campuran dari sekian banyaknya bahasa.." ujar saya, "Boleh jadi dari bahasa arab.." jawab beliau,"Boleh jadi.." balas saya sambil melanjutkan cerita saya.

Jika dibandingkan dengan sumber informasi yang biasa dan bisa didapatkan masyarakat Indonesia dewasa ini, kata "Salju" memang seperti umum untuk didengar, padahal pada hakekatnya kebanyakan masyarakat Indonesia menggunakan kata ini sebagai sebuah metafora ataupun istilah-istilah yang boleh jadi maknanya berlawanan, namun bisa mengantarkan diksi yang sesuai dengan tujuan mencairkan suasana dan sebagainya. Tetapi Mendiang Buyut saya adalah seorang tokoh agama, dalam kesehariannya menggunakan bahasa cirebon dan kehidupannya saya rasa jarang sekali untuk bertemu dengan kata salju, mengingat beliau sudah sedikit kesulitan untuk membaca maupun menonton televisi sejak beliau berumur 70 Tahun.

Hal-hal seperti pengetahuan kita tentang kata-kata asing seperti ini, yang boleh jadi pada hakekatnya fenomenanya tidak kita temui dalam keseharian kita ini, memang terlihat sederhana, tetapi secara tidak sadar kita menstimulasi otak untuk bisa mengembangkan kemampuannya dalam berpikir, setidaknya mendapatkan kapasitas ekstra dalam merangkum sebuah masalah dan mengolah pengalaman hidup kita untuk bisa menghadirkan solusi-solusi maupun gaya berpikir yang baru, boleh jadi ini yang biasa orang sebut dengan "Thinking Out of The Box", biasakan diri anda dengan sesuatu yang baru untuk bisa menumbuhkan ide baru.

Seperti semisal saat seseorang memiliki kemampuan lebih dari satu bidang, maka kombinasi benih berpikir seseorang bisa memproduksi sesuatu hal yang baru, seperti seseorang yang selalu bisa memasak dengan rasa yang disukai oleh banyak orang , ketika dia menambahkan keahliannya dalam bidang seni, seseorang itu mampu menghadirkan masakan atau hidangan yang tidak hanya rasanya yang enak tapi memiliki impresi lebih dari penyajiannya. Atau bagaimana seseorang yang ahli perkebunan dan memiliki keahlian dalam teknologi informasi bisa menjadikan sebuah penemuan alat baru untuk memasarkan hasil kebunnya.

Pada hakikatnya jika kita bosan dengan keseharian kita, kita jangan lengah dengan kebiasaan, keseharian kita yang cenderung monoton, cobalah hal baru untuk bisa mewarnai kehidupan anda dengan rona-rona yang baru sampai pada titik anda menemukan sesuatu yang benar-benar menggairahkan anda dalam menjalani kehidupan ini, karena otak kita memang seperti kertas putih, bagaimana kita memasukkan warnanya pada warna putih itu adalah keputusan kita sendiri, biasanya bisa diawali dengan bertemu lingkaran sosial yang baru ataupun mencoba hobby baru yang menarik minat anda, biasanya minat anda muncul pada saat yang tidak anda duga dan tidak anda sadari, metode pencariannya adalah cari referensi sebanyak-banyaknya hingga ada sesuatu yang bisa menarik minat anda.

Demikian tulisan ini saya buat dengan tujuan untuk bisa memotivasi bagi para pembaca yang sedang merasa bosan dan bingung untuk mencari alasan memulai sesuatu yang baik tentunya.

Saya mohon maaf jika ada kurang dan/atau salah kata yang boleh jadi tidak berkenan bagi anda, karena saya pun manusia seperti anda (Saya Rasa :D)
Saya juga mohon maaf karena tulisan ini baru bisa diselesaikan setelah menonton Avengers : End Game, dengan tujuan menghindari spoiler film Captain Marvel, karena keterkaitan kasusnya cukup menginspirasi saya.
Kritik dan saran saya sambut dengan baik, jika anda memasukkannya pada kolom komentar.
Sampai bertemu di tulisan saya berikutnya,

Terima kasih,