Kulihat angkasa malam hari, kudapati bulan termenung dalam kesendiriannya yang abadi. Sekilas ini seperti cermin, cerminan diriku, sosok hampa dengan hal-hal kecil yang selalu mengiringi namun memperindah waktuku. Aku bosan di bumi, ingin kutemani bulan, kuingin terbang ke angkasa luas dan menyatakan cintaku pada bulan dan seluruh semesta, hingga matahari cemburu dan tak lagi mencampakkannya. Aku bosan di bumi dengan mereka yang serakah dan tidak tahu malu, aku bosan di bumi dengan mereka yang sombong dan angkuh.
Luas semesta tak terhitung oleh kulit dan waktu, kenapa kau tidak pergi untuk mencari yang lebih baik dari bumi dan mentari yang jelas-jelas hanya ada disaat mereka membutuhkanmu bulan? kuterjatuh karena kepalaku mendongak serius ke arahmu sambil berjalan di bebatuan pantai, mereka menertawaiku, namun tak kuhiraukan tawa mereka, karena kau membutakan diriku, kau hilangkan rasa maluku hingga ku berlari telanjang di hadapan seribu senyum tua.
Cermin di angkasa tidaklah fana, kau diriku bulan dan aku dirimu. Kita serasa tapi tak serupa, tak kurasa malu dan sakit yang ada dalam daging bau busuk ini, tak kurasa mual dan putar ruwet dalam glia yang semrawut. Sebegitu tak pantaskah kita untuk merasa hangat, nyaman dan aman? Sebegitu Hina kah kita, bulan? Aku akan berubah saat mentari bertabrakan dengan segala yang ada di semesta, mungkin itu adalah waktunya kita mendapatkan apa yang kita inginkan, bulan. Tuhan menguji kita, Tuhan memuji kita, sebaliknya kita tiada berkata hingga Tuhan murka.
Cermin Di Angkasa sedari dulu hingga nanti aku mati terkubur dalam jutaan ruh yang saling mencinta..
Luas semesta tak terhitung oleh kulit dan waktu, kenapa kau tidak pergi untuk mencari yang lebih baik dari bumi dan mentari yang jelas-jelas hanya ada disaat mereka membutuhkanmu bulan? kuterjatuh karena kepalaku mendongak serius ke arahmu sambil berjalan di bebatuan pantai, mereka menertawaiku, namun tak kuhiraukan tawa mereka, karena kau membutakan diriku, kau hilangkan rasa maluku hingga ku berlari telanjang di hadapan seribu senyum tua.
Cermin di angkasa tidaklah fana, kau diriku bulan dan aku dirimu. Kita serasa tapi tak serupa, tak kurasa malu dan sakit yang ada dalam daging bau busuk ini, tak kurasa mual dan putar ruwet dalam glia yang semrawut. Sebegitu tak pantaskah kita untuk merasa hangat, nyaman dan aman? Sebegitu Hina kah kita, bulan? Aku akan berubah saat mentari bertabrakan dengan segala yang ada di semesta, mungkin itu adalah waktunya kita mendapatkan apa yang kita inginkan, bulan. Tuhan menguji kita, Tuhan memuji kita, sebaliknya kita tiada berkata hingga Tuhan murka.
Cermin Di Angkasa sedari dulu hingga nanti aku mati terkubur dalam jutaan ruh yang saling mencinta..