Wednesday, December 19, 2012

Asap

Terbang terbawa angin, tak punya tujuan lalu hilang bersamanya.. Tak berbentuk, hanya sesekali terlihat, tak banyak warna dan hanya mengitari satu ruangan.. Damai, lembut, berangan.. Sembari terbang dia menari, entah tarian apa itu.. Dia berkumpul bersama teman-teman seumurannya, lalu mereka berlari menaiki udara lembut menuju angkasa luas untuk bertemu orang tua dan teman-teman lainnya yang sudah menunggunya untuk bersama turun kembali dengan tetesan air.. bak burung yang terbang bebas lalu tewas menghantam bumi.. Salah mereka? itu takdir mereka, takdir mereka yang sangat menyedihkan.. Hidup mereka terlalu ringkih dan sangat mudah ditiadakan..

Selamat jalan kepulan asap yang kusayang, kusimpan sebagian dalam dada dan darahku..

Di Kesendirian Yang Tak Diharapkan

Apa yang ada dalam benakmu saat kau sendiri? Sebuah lagu? Sebuah kenangan? Atau sebuah khayalan? Apapun itu, sendiri bukanlah keadaan yang menyenangkan, bukan? Saat tak seorangpun di sekitarmu yang bisa kau percaya, saat semua orang yang kau percaya di sekitarmu berkhianat, saat pikiranmu pecah menjadi keping-keping yang bahkan tak bisa kauambil.

Aku sering pergi kesana, pergi ke kesendirian yang tak diharapkan. Ruangan itu gelap, tak ada udara, di sana hanya ruang hampa yang panasnya membuatmu tak henti berkeringat. Bukan inginku tuk kembali ke tempat menyedihkan itu, mereka memaksaku, karena kalau sampai aku menolak, mereka tak segan membunuh orang-orang yang kusayang. Kutinggalkan segalanya dengan keadaan nyaman dan tenang, tanpa mereka tahu aku ada di sini dengan segala makhluk menjijikan yang tak henti menjilatiku. Mereka bukan anjing, mereka ular beracun dan bahkan masing-masing dari mereka memiliki kepala lebih dari yang bisa kau hitung dalam sehari.

Aku lupa bagaimana cara untuk tersenyum selama beberapa hari, hingga suatu hari aku gila dan bisa kembali tersenyum. Miris? itu satu-satunya cara agar aku bisa tersenyum, aku harus gila. Sesekali aku kabur ke tempat yang hening dan banyak pepohonan di sebelah tempat itu, disana itu lucu, banyak orang tertawa, ada yang memasak, ada yang tidur dengan suara dengkurannya terdengar hingga ruangan belajar anak-anak, di sana ada rokok dan yang paling aneh di sana adalah cinta. Aku benar-benar tak mengerti apa itu, makanan? kata benda? kata sifat? atau kata kerja? mereka menggunakan istilah itu sebagai tuhannya seperti jaman para pendahulu kita yang menyembah patung. Cinta yang membuat mereka bisa makan, Cinta bisa membuat mereka menikmati tubuh lawan jenisnya, ini aneh, tapi terlihat sangat menyenangkan saat mereka tersenyum bukan karena gila yang biasa terjadi saat aku di kesendirian yang tak diharapkan.

Tuhan menciptakan terlalu banyak tempat, namun tak satupun pilihan mendatangiku. Sebelumnya kulihat burung terbang dari satu pohon ke pohon lainnya untuk menemui kekasihnya, berharap akan menetas telur-telur yang ada disangkarnya itu. Tapi mereka hanya mendapatkan kekecewaan, tempat itu terlalu sempit untuk telur-telur itu menetas, mereka butuh tempat seluas langit dan sehangat pantai untuk menetas. Kesendirian yang tak diharapkan adalah mimpi buruk bagi semua makhluk, ketika mereka kecewa, mereka akan dipaksa masuk entah apa tujuannya. Beberapa bisa kabur dari tempat itu dibantu temannya, sebagian mati membusuk di ranjang pesakitannya, aku belum menentukan mana yang kupilih. Kabur bersyarat punya teman, sementara mati membusuk dengan mudah kudapat. Setidaknya kini ku gila sesaat untuk bisa tidur sembari tersenyum, dan semoga besok akan ada teman untuk membantu ku kabur dari sini, kabur dari kesendirian yang tak diharapkan.

Aku Ingin Disana!!

Aku dan ruang gelap..

Kami satu dari satu mata, Saat mulut berkata..
Kami dua dari matahari, Saat berdiam diri..

Gelap ini jelaga..
Aku ingin terjaga!!
Terdengar senandung sampai kemari..
Indah kulihat bidadari menari..

Aku ingin disana!!

Persetan dengan kalian yang tertawa!!
Ini aku!!
Aku kuat!!
Aku bisa kesana!!

Siang ini akan kuterjang ruang gelap penuh asap..
Dengan nada!!
Dan dengan doa..