Wednesday, March 20, 2013

Damai

Aku yang dilangkah belakang

Serupa lampu mati serupa hati

Pura-pura ada di badan
Bohong ada di mulut
Yang hati rasa tiada menghiraukan

Ada apa dengan mereka?
Lupa?

Dia yang mengacau, dia yang mencaci
Dimana malumu?
Kau teriak dunia mendengar
Orang benar tuhan yang tahu

Serupa gandhi dari india yang mati karena senyum

Mungkin

Mungkin ini mungkin
Karena mungkin itu mungkin
Sudah mungkin bukanlah mungkin
Bisa mungkin juga mungkin

Berharap kau punya kata lain
Bisa jadi hanya lamunan dibalut kain

Bicara

Orang terlalu mudah bicara
Tak sadar muka orang dilumuri perca
Serupa albert berotak katak
Berupa katak tak berwatak

Diujung dahan orang menunggu mati
Nafas panjang dimakan hati

Wajahmu merah!

Satu

Satu senyum diingat
Satu kata diucap
Satu hati merasa
Satu hari dirasa
Sosok nyata dalam imaji yang begitu buram
Sebentuk rasa bagi manusia yang begitu muram

Kemarin adalah hari dimana dia berteriak
Esok adalah kesempatannya untuk tersenyum

Bahagia orang cari
Bahagia selalu dinanti
Manusia tau apa?
Manusia bisa apa?

Berlari kelaut, hanya pasir dan ombak yang ditemuinya
Mendaki gunung, hanya pepohonan dan keheningan yang menyapanya

Sosok itu berlari kesana kemari
Sosok itu melayang

Alam pikir terkoyak lalu terbakar bagai kapas kering berminyak
Apinya berkobar sekian lama tak kunjung padam

Kidung di hati terus terlantun
Lantunnya sendu bagai nyanyian merpati

Mendungnya hati selalu berlaun