Sunday, December 28, 2014

Romansa Suatu Masa

Waktunya cepat berlalu.
Padahal hendak kuajak bicara.
Harumnya tertinggal dalam sepi.
Padahal sudah bosan kuciumi.

Dahan tampak berkilau.
Gunung berderu bagai genderang perang.
Lautan berkata tak lagi berlari.
Kilau mentari mengalir dari lehernya.

Semua menjadi tak beraturan namun menyenangkan.
Untuk kukenang, takkan kusesali.
Hiasi esok dengan warnamu.
Sesekali kubuang dalam bara agar memudar.

Bintang

Getaran ini adalah kata.
Frekuensi yang tak kau dengar.
Mengalun bersama angin ke udara.
Sampai di telingamu yang kau tutup rapat.

Sebening air seputih kertas.
Bersinar di gelapnya malam.
Menyala bagai lentera harapan.
Berkilau kala ku gembira.

Engkau hanyalah bintang.
Aku sekadar manusia.

Tanda Tanya (!)

Aku benci membenci..
Karenanya kebencian malah menjadi biasa.
Aku benci ketika aku harus membenci..
Karenanya membenci bisa dalam sekejap saja.

Syukurlah aku manusia..

Tetapi langit semakin kelam.
Tanah tak lagi hangat.
Rumah pun tak berpintu.
Mendidih bumi ini kemarin!

Kemarin kutanya pada angin.
Hanya bermasam dan berlalu.
Hari ini kutanya hujan.
Dia menangis menunduk dan berlalu.

Haruskah kubiarkan?
Hnya mampu memandangi.
Memandangi manusia berlumuran benci.
Sedang aku melumuri.

Tuesday, December 2, 2014

Surat Untuk Merpati Hitam

Untukmu yang hitam namun begitu cemerlang.
Merpatiku..

Jangan kau ragu tuk pergi menjauh.
Pergilah, kejar yang kau mau..

Disini ku terantai mimpi..

Sudah selesai kisah kita yang kemarin.
Kini kau buka lembaran barumu..
Bukan denganku, dengan mereka.
Biar rantai ini yang mendewasakanku.

Takkan kusesali semua yang telah terjadi..
Kusimpan kisah kita di antara gemercik air.
Bisa kutengok kala ku rindu.

Pergilah menuju lautan nan luas..
Pergilah menuju pegunungan nan tinggi..
Pergilah ke padang rumput yang sejuk nan damai..
Pergilah kemanapun kau mau.

Miang Di Hatimu

Menguntai kata..
Merangkai nada..
Membuai rasa..
Mengurai derita..

Janji yang terucap..
Nada yang mengalun..
Rasa yang terungkap..
Derita yang terusap..

Hanya aku yang tahu.

Usah semua ragu itu untukku..
Ku tiada pernah kan datang lagi padamu.

Dauk

Sudah kubilang sempurna hanyalah kata.
Sudah kuasa di tanganmu.
Sudah harta dalam perutmu.
Sudah wanita di pelukmu..

Tetap kau cari sempurna.
Tetap kau rebut kuasa.
Tetap kau rampas harta.
Tetap kau jerat wanita.

Kaulah dauk.
Putih yang bukan putih.
Putih yang keluar dari bangsanya.
Putih yang lupa tempatnya.

Seusai Senja

Buai bintang meracau di antara mega yang mendung..
Suar cahaya mentari lenyap ditelan tanah sore yang lapar..
Terpuruk sang gelap dihempas bimbangnya senja..
Tak terkira suasananya saat itu.

Siang tiada tertolong tertinggal mati di balik jeruji waktu..
Manusia berlari tergesa dikejar lelah sampai ke rumahnya..
Langit turut mengayun hujan membasahi muka bumi yang kering.
Lalu semua terhening dimakan kesunyian Malam..

ELANG

Dia terbang melayang, melenyapkan tubuhnya di antara langit nan kelabu.
Tak takut akan petir yang sedang murka siang itu..
Terbang seakan tiada pernah ada hari esok.
Terbang kemana, hanya dia yang tahu.

Kepakan sayapnya menghempaskan kapas nan dingin..
Sesekali matanya yang tajam menatap pepohonan yang semakin mengecil..
Dinginnya langit tak jua ia rasa..
Hampanya langit takkan buat takut terpahat di hatinya..

Dialah esok!
Dialah sekarang!
ELANG.