Thursday, March 26, 2015

Suratan Takdir

Bukan berarti hati tiada merasa saat diam menggenangi bibir ini..
Bukan berarti jiwa tiada kuasa saat rindu menggenggam raga ini..

Namun kuasaku hanya sebatas mimpi,
Berlari kulakukan di hari demi hari.
Hingga kuusap peluh serupa darah,
Hanya cinta yang tetap bangkitkan asa.

Bukan jua hati merana termati jika kaki melangkah pergi,
Namun lelaki harus begini.

Saat mentari menyongsong nafas di raga,
Saat detak kembali terulang di jantung ini,
Saat itu pula kau hadir berbentuk bayang paling nyata.

Kau kata apapun hari tetaplah pergi,
Seakan kau tiada berarti bagiNya.
Namun sungguh tiada sesuatupun kau tahu kenyataannya.

Thursday, March 5, 2015

Detik-detik

Waktu melambai di saat dinanti.
Tak berlari seperti yang kau tahu.
Gelapnya langit tak jua senyapkan rasa.
Hanya gemilang bintang..

Malam demi malam silih berganti,
Namun yang Satu kan abadi.

Kekal hanya imaji,
Namun begitu nyata saat dirasa.
Bumi berputar seakan hendak pergi,
Tak punya tuju pun hanya berdiam diri.

Detik-detik terasa hilang.
Detik-detik terasa terulang,
Detik-detik tak terdulang.
Detik-detik tafsir ucapku.

Terbakar

Tiada 'kan enggan jika kumau.
Kucoba labuhkan rasa,
Hanya cinta tak biasa.

Terbakar hingga ke palung hati,
Rasa yang tak pernah mati.

Seolah cinta bukan hancur lebur seperti yang dikira,
Namun hanya terpendam sejengkal dari kaki .
Lalu tergali saat diri hendak melangkah pergi.

Kutenangkan hati,
Kubenam rasa ini kembali.
Namun hasrat ini tak meragu,
Walau hanya sehelai nafasku.

Tak pernah ku terbakar,
Sepanas malam ini.
Sepanas malam tanpamu.

Terbakarnya hati hanya kuatkan rasa,
Seperti puing namun abadi.

Terbakarnya palung hati,
Hanya lebarkan sayap dari singgahku.