Thursday, March 26, 2015

Suratan Takdir

Bukan berarti hati tiada merasa saat diam menggenangi bibir ini..
Bukan berarti jiwa tiada kuasa saat rindu menggenggam raga ini..

Namun kuasaku hanya sebatas mimpi,
Berlari kulakukan di hari demi hari.
Hingga kuusap peluh serupa darah,
Hanya cinta yang tetap bangkitkan asa.

Bukan jua hati merana termati jika kaki melangkah pergi,
Namun lelaki harus begini.

Saat mentari menyongsong nafas di raga,
Saat detak kembali terulang di jantung ini,
Saat itu pula kau hadir berbentuk bayang paling nyata.

Kau kata apapun hari tetaplah pergi,
Seakan kau tiada berarti bagiNya.
Namun sungguh tiada sesuatupun kau tahu kenyataannya.