Tak satupun yang tahu,
Kutiti jalan, kuarungi jua waktu
Kini mereka pun tahu,
Sudah kutiti jalan, jua kuarungi sang waktu
Tiada yang berharga di depan mata,
Namun takkan terbayarkan yang ada di hati.
Sungguh cinta meneguhkan segalanya,
Mataku seakan menyala bagai pendar cahaya dalam kelamnya waktu
Tak kucari yang kumau,
Bukan karena aku tak selaki-laki itu.
Tak kucari yang kumau,
Karena, ku terbiasa dengan air yang membasahi keringnya tanah.
Tiada kan mengerti,
Namun waktu jua tak sekeji itu.
Suatu kelak mereka akan tahu bahwa yang berbeda tak bisa sama.
Tiada kan pahami,
Namun waktu jua tak sekeji itu.
Suatu kelak mereka akan tahu bahwa yang sama masih bisa berbeda.
Namun hati terkadang pasrah akan bengisnya warna,
Hingga rela diperkosa dunia.
Biarlah, nanti mereka kan mengerti..
Bahwa yang berbeda tak bisa sama.
Terima Kasih untuk Cinta dan Pencipta Cinta..
Kutiti jalan, kuarungi jua waktu
Kini mereka pun tahu,
Sudah kutiti jalan, jua kuarungi sang waktu
Tiada yang berharga di depan mata,
Namun takkan terbayarkan yang ada di hati.
Sungguh cinta meneguhkan segalanya,
Mataku seakan menyala bagai pendar cahaya dalam kelamnya waktu
Tak kucari yang kumau,
Bukan karena aku tak selaki-laki itu.
Tak kucari yang kumau,
Karena, ku terbiasa dengan air yang membasahi keringnya tanah.
Tiada kan mengerti,
Namun waktu jua tak sekeji itu.
Suatu kelak mereka akan tahu bahwa yang berbeda tak bisa sama.
Tiada kan pahami,
Namun waktu jua tak sekeji itu.
Suatu kelak mereka akan tahu bahwa yang sama masih bisa berbeda.
Namun hati terkadang pasrah akan bengisnya warna,
Hingga rela diperkosa dunia.
Biarlah, nanti mereka kan mengerti..
Bahwa yang berbeda tak bisa sama.
Terima Kasih untuk Cinta dan Pencipta Cinta..