Sunday, September 27, 2015

Kuldesak 2

Kini semua sudah berbeda..
Tak lagi sejernih dulu, pun tak bisa lagi..
Ingin kurobek langit bagai kain perca tua..
Namun bukan dayaku..

Senyum gembira adalah makanan kesukaanku kini..
Terdiam adalah minuman yang kuminum sesudahnya..
Akal kini sudah pergi entah kemana..
Bagai api hati ini semakin redup..

Terangilah Jiwa ini!! (Ku berseru)
Kusimpan jerami untuk hangatkan malamku..
Kusinggahi lautan hanya tuk menyapa semesta..
Tak semestinya kita begini..
Apalagi diriku, namun hanya dalam angan..

Fakta adalah TakdirNya yang harus kita terima..
Sebagai insan selayaknya buih di samudera yang begitu luas..
Bagai debu di padang pasir..
Yang terseret ombak, yang terhempas hembusan angin..

Semua ini adalah rencana yang Maha Merencanakan..

Kita harus terima dengan lapang dada..
Berani mencari kekurangan diri dan memperbaiki..
Kalau kau temui jalan yang buntu..
Tengoklah ke atas sembari bersimpuh dan menangis..
Dia mengangkat kalian untuk masuk tingkat selanjutnya..

Begitupun diriku..

Friday, September 25, 2015

Cemburu

Dan api ini membakar habis asa yang ada.
Mataku memerah memandang dekat.
Aku adalah lelaki satu dan satu-satunya.
Yang berdiri tegak di atas puncak tak tertandingi.

Jangan kau sentuh wanita ku.
Walau ini hidupku, yang takkan kau tahu.

Menamai cemburu menyamai gunung berapi.
Kau tak pantas untuk siapapun.
Dihujani hujat, ditimpa sepi.
Tiada sepi hanya panasnya yang membakar hati.

Thursday, September 24, 2015

Tanya

Lalu kapan aku dapat hidup tenang?
Seolah hati dikejar waktu..
Waktu yang membeku diujung malam..
Bersama rindu yang menikam hati..

Rindu ini bukan untukmu,
Rindumu bukan untukku,
Sekilas kilau senyummu menyapa hati.
Namun kutahu takkan pernah abadi..

Aku rindu kota tirani,
Dimana nurani digilas habis oleh nafsu,
Tiada bimbang, tiada ragu.
Hanya melangkah sepi menyusuri waktu.

Andai kata itu ada dalam hati,
Yang paling nyata dan tanpa noda..
Kuhanya ingin menghabiskan sisa malam ini memelukmu,
Kecupi keningmu hingga terlelap dalam pelukku.
Meronakkan senyummu untuk hangat cintamu..

Telah lama kuterdiam dalam kebimbangan hati.
Terombang keinginan juga cita-cita.
Dihujam dusta dan kepalsuan.
Dideru dosa di tiupi doa..

Tuhan..
Aku hanya ingin bersamamu selamanya dalam keabadian..
Yang tak pernah mengecewakanku..
Yang tak pernah melupakanku..
Yang selalu menjadikan cintaku cinta abadi yang diikat rindu berduri.

Alpha

Dan aku mendamba cinta seperti milikmu.
Pikiran mereka terlalu sempit untuk duniamu..
Hati mereka terlalu kecil untuk berlapang dada..
Tiada ruang untuk cinta sebesar milikmu..

Kaulah ayah dari ayah yang diagungkan..
Kaulah rindu para pemujaNya..
Andai nafas terakhir ada di ambang waktu,
Kupinta waktu untuk bertemu denganmu..

Wahai pecinta,
Ajarilah duka nestapa mencintai..
Wahai pecinta,
Beritakanlah bahwa air mata adalah rasa..

Wahai pecinta sejati..
Ajari aku lagumu..
Wahai pecinta sejati..
Cucumu kini menjadi yang terakhir di benci dari kaumnya..

Aku bukanlah siapa-siapa tanpamu..
Entah kemana kisah ini kualamatkan.
Bersandar di antara kebodohan dan derasnya waktu..
Bersimpuh dalam silang jemari penuh tanda tanya..

Tiada Lain

Tiada gunung pernah kudaki jika bukan karenamu..
Tiada laut kujumpai jika bukan karena rinduku..
Rinduku bergelora serentak meledaknya semesta dalam imaji..
Rinduku tiada dusta dan semurni udara di bumi..

Kamulah akhir perjuanganku..
Bukan nafsu, namun cita-cita..
Wanita lain terlalu biasa di hadapanku..
Tidak dengan tatap dan sejuk sapamu..

Seolah kering di hati dibasuh rindu semalam..
Seolah rasa dibasuh cinta nan abadi..

Tiada lain hanya untukku..