Saat sepi mengisi hati..
Saat angin malam membawa debu diantara hening para pejalan kaki..
Kuharap adanya mereka kan mengobati.
Saat waktu berjalan begitu lama..
Saat kawan begitu jauh sementara semua udara sudah meninggalkan dada..
Kuharap kan tiba kasih yang kudamba.
Lancang aku bertaruh dengan berkata yang belum kupahami maknanya,
seakan semua sudah pasti, bicaraku di depan yang Maha Mengetahui.
Seperti sapi berbaris di penjagalan.
Ada satu sudut dimana sedikit gelap menjadi nyaman,
tempat aku menanti..
Tanpa tahu apa yang akan terjadi..
Tiba pula si tukang jagal.
Tanpa pisau tanpa kapak, mengepakkan sayap,
Menjejalkan aroma cemara dalam penggalan nafasku yang kering.
Aku tak tahu mengapa malaikat tak terlihat.
Jika malaikat adalah wanita, kutemui salah satu darinya malam ini.
Di hadapanku..
Bukan pula jemari ataupun langkah kaki.
Seakan semua bukan lagi problematika.
Sementara alunan merdu gitar samar bergema di telinga.
Sementara udara seketika hampa.
Bukan karena makanan yang setengah habis.
Bukan pula karena hari yang melelahkan.
Namun lembut jabat tangan,
Juga tutur yang mempesona buatku hilang kendali.
Luluh pula gunung es yang selalu aku banggakan,
Hancur pula angkuh yang selama ini menjulang,
Lebur semua gumpalan ego milikku,
Samar pula pandangan yang selama ini kuandalkan.
Andai kata perang ini hanya milikku,
Sudah pasti aku tak punya pertahanan.
Andai kata jiwa ini hanya milikku.
Sudah pasti hal ini takkan terjadi.
Kau balikkan hati,
Kau kembalikan rasa,
Kau usap pilu,
Kau manusiakan aku kembali..
Setelah sekian lama..
Saat angin malam membawa debu diantara hening para pejalan kaki..
Kuharap adanya mereka kan mengobati.
Saat waktu berjalan begitu lama..
Saat kawan begitu jauh sementara semua udara sudah meninggalkan dada..
Kuharap kan tiba kasih yang kudamba.
Lancang aku bertaruh dengan berkata yang belum kupahami maknanya,
seakan semua sudah pasti, bicaraku di depan yang Maha Mengetahui.
Seperti sapi berbaris di penjagalan.
Ada satu sudut dimana sedikit gelap menjadi nyaman,
tempat aku menanti..
Tanpa tahu apa yang akan terjadi..
Tiba pula si tukang jagal.
Tanpa pisau tanpa kapak, mengepakkan sayap,
Menjejalkan aroma cemara dalam penggalan nafasku yang kering.
Aku tak tahu mengapa malaikat tak terlihat.
Jika malaikat adalah wanita, kutemui salah satu darinya malam ini.
Di hadapanku..
Bukan pula jemari ataupun langkah kaki.
Seakan semua bukan lagi problematika.
Sementara alunan merdu gitar samar bergema di telinga.
Sementara udara seketika hampa.
Bukan karena makanan yang setengah habis.
Bukan pula karena hari yang melelahkan.
Namun lembut jabat tangan,
Juga tutur yang mempesona buatku hilang kendali.
Luluh pula gunung es yang selalu aku banggakan,
Hancur pula angkuh yang selama ini menjulang,
Lebur semua gumpalan ego milikku,
Samar pula pandangan yang selama ini kuandalkan.
Andai kata perang ini hanya milikku,
Sudah pasti aku tak punya pertahanan.
Andai kata jiwa ini hanya milikku.
Sudah pasti hal ini takkan terjadi.
Kau balikkan hati,
Kau kembalikan rasa,
Kau usap pilu,
Kau manusiakan aku kembali..
Setelah sekian lama..