Selalu kusisipkan namamu dalam doaku,
Sedikit marah menjaring noda dalam embun yang merasuk ke rongga dada..
Tak berhenti mencari rima biarpun musim berganti.
Tak kuasa menahan rindu, melawan mau, dan bertahan sendirian..
Bukan ku tak ingin dirimu,
Kau yang kini begitu asing bagi pribadiku yang begitu liarnya.
Sementara kau bersepi, aku pun teriris duka nestapa..
Andai angin bawa rinduku, kumohonkan padanya untuk menyapamu..
Engkau bukanlah yang dicari hati,
Bukan pula karena aku tak ingin,
Namun membohongi hati yang larut dalam prahara romansa hati adalah ketiadaan.
Kusematkan rinduku bagimu,
Semoga kau tak membencinya..
Sedikit marah menjaring noda dalam embun yang merasuk ke rongga dada..
Tak berhenti mencari rima biarpun musim berganti.
Tak kuasa menahan rindu, melawan mau, dan bertahan sendirian..
Bukan ku tak ingin dirimu,
Kau yang kini begitu asing bagi pribadiku yang begitu liarnya.
Sementara kau bersepi, aku pun teriris duka nestapa..
Andai angin bawa rinduku, kumohonkan padanya untuk menyapamu..
Engkau bukanlah yang dicari hati,
Bukan pula karena aku tak ingin,
Namun membohongi hati yang larut dalam prahara romansa hati adalah ketiadaan.
Kusematkan rinduku bagimu,
Semoga kau tak membencinya..
Biarlah prahara ini menderu debu di dalam hati.