Ceritanya dimulai dari awal oktober 2018, sedari 2 bulan sebelumnya jadwal kegiatan saya bener-bener padat dan susah sekali diatur, terutama menyediakan waktu bagi saya, karena memang waktunya belum tepat untuk memprioritaskan diri pada masa itu.
Di suatu malam, saya lagi buka-buka akun instagram saya, dan saya lihat ada informasi konser megadeth di Indonesia, saya pikir bakal dateng di tahun 2019, ternyata di bulan itu juga dan di jogjakarta yang notabenenya kota favorit saya buat liburan ditambah lagi band metal favorit saya yang notabenenya udah pada tua-tua, takut enggak kebagian nonton konsernya lagi, dengan pertimbangan yang begitu saya nekat beli 2 tiket konser, 1 tiket kereta api buat berangkat dan 1 tiket pesawat buat pulang, booking kamar hotel juga booking rental mobil buat 2 hari selama di jogja.
Sampai 3 hari sebelum jadwal konser akan dilangsungkan, saya masih belum tahu mesti ajak siapa buat nonton konsernya, disamping saya sendiri masih belum yakin bisa dateng, karena kawan-kawan saya juga kebetulan mereka kurang tertarik sama band trash metal satu ini, padahal eargasm yang saya dapet setiap lagi suntuk malam hari atau jogging di pagi hari, lagu2 band ini paling bisa ngegeber semangat saya.
Setelah membujuk setengah paksa beberapa kawan saya dengan iming-iming semua beban biaya saya yang bakal tanggung, akhirnya ada yang mau, walaupun akhirnya dia maksa beli sendiri tiket keretanya. Tugas saya selanjutnya adalah setting kerjaan biar bisa autopilot selama beberapa hari, beberapa janji saya hold, dokumen-dokumen yang harus dipelajari dan dibuat saya serahkan dulu ke salah satu staff kantor dan minta dia buat rangkumannya, tinggal izin ke ayah saya, sedari dulu ayah saya enggak pernah setuju kalau ada anaknya yang nonton konser, apalagi band atau aliran musik keras, akhirnya saya bilang mau naik gunung "Kayaknya" ayah saya kaget, karena terakhir kali saya naik gunung sekitar 3-4 tahun lalu, tapi enggak ngelarang dan saya pun berangkat dengan damai menuju stasiun kereta. Kalau ditanya kenapa saya minta izinnya naik gunung? biar saya bisa matiin telfon saya selama beberapa hari.
Berangkat saya H-1 dari jakarta, mungkin hampir 3 tahun saya enggak naik kereta di Indonesia, dan kali itu rasanya bener-bener saya bisa menghargai waktu dan belajar buat bisa menikmati semua yang ada, I feel that I’m invicible at that moment, because that’s my first holiday in 3 years and I don’t even have a girlfriend for that long so it’s all about my excitement of course, Selain itu terakhir kali saya naik kereta pun udah 2 tahun lalu di jepang, itupun saya mau karena dikasih akomodasi kereta yang boleh ngerokok (Saya perokok berat).
 |
Foto terakhir saya waktu naik green car (Smoking) shinkansen **Harap jangan ditiru** |
Tapi kalau bukan karena saya enggak bisa ngerokok di kereta, saya suka sekali perjalanan menggunakan kereta, karena saya bisa punya banyak waktu untuk berpikir (Organizing my mind, body and soul) dengan tenang bisa saya katakana menggunakan transportasi kereta api adalah perjalanan meditasi diri juga, karena jika dibandingkan ketegangan yang terjadi dibandingkan naik pesawat (Critical Eleven, Massive Turbulance, Cabin Pressure, dll), naik kereta jauh lebih tenang dan nyaman bagi saya pribadi.
Memang kadang tetap saja ada yang mengganggu seperti penumpang perempuan yang duduk di sebelah saya tidur dengan mendengkur, tapi itu semua merupakan bagian dari keseluruhan pengalaman saya dalam berlibur kali itu. Sesampainya di Jogjakarta pun saya didekati oleh seorang ibu dan anak perempuannya terus bilang “Selamat siang, dek.. Selamat datang di jogja..”, dalam benak saya memang betul orang-orang jogja ini punya budaya sopan-santun, ramah-tamah yang luar biasa dan menjadi factor utama mengapa jogja merupakan destinasi favorit saya untuk berlibur, lantas ibu itu melanjutkan bicaranya “Saya sama anak saya ini, salah turun stasiun dek.. Kita mau pergi ke Malang, tapi kehabisan ongkos..” dan saya pun kaget, bukan karena salah duga dari tujuan ibu ini yang awalnya saya pikir sekadar menyapa dan akan menawarkan dagangan, tapi karena saya tidak tahu apakah ke Malang itu lewat stasiun tempat saya turun, tanpa pikir panjang saya berikan bantuan alakadarnya, karena saya sudah tersiksa dengan rasa yang tidak karuan di mulut saya karena tidak merokok dalam waktu yang cukup lama.
Setelah saya selesai merokok, saya langsung telepon perusahaan sewa mobil yang sebelumnya sudah saya pesan, saat bertemu di stasiun itu saya hanya perlu memberikan paspor saya sebagai jaminan selama saya menggunakan mobil di jogja, tapi naasnya, saya malah lupa bawa paspor yang notabenenya dipegang oleh salah satu staff kantor saya (Karena menunda pengambilan, malah lupa bawa), karena kesepakatan awal adalah jika tidak ada paspor maka akan dibatalkan tanpa pengembalian uang, saya sudah tawarkan beberapa opsi identitas pribadi saya lainnya, tapi karena kesepakatannya sudah ditetapkan di awal dan saya setujui itu, maka saya terima dengan berat hati konsekuensi kelalaian saya.
Sesampainya di hotel, kawan saya yang sudah datang lebih dulu sedang tidur, dan saya rasa fasilitas di hotel itu cukup baik karena banyak turis mancanegara yang menginap di situ, ada yang berbicara bahasa perancis, belanda dan bahasa mandarin juga ada yang berbicara dengan logat batak dan padang.
Malam harinya saya dan kawan saya berinisiatif untuk wisata berkeliling kota jogja, awalnya saya mau cari persewaan mobil lainnya atau motor paling tidak, tapi kawan saya menolak, lebih baik berjalan kaki atau menggunakan taksi online katanya, karena kerelaan dia buat datang, saya hargai dan ikuti sarannya, tujuan pertama kita tentunya adalah nasi gudeg di sekitar alun-alun kidul, sedikit pedas (Saya kurang terbiasa dengan makanan pedas) dan berbeda dari yang saya ingat sebelumnya, beberapa tahun sebelum itu saya ingat betul nikmatnya, tapi tetap saya menikmati hidangan itu karena itu adalah liburan saya juga sedikit senda gurau dengan kawan saya menjadikan kekurangan itu tidak berarti.
Setelah itu kami berjalan kaki mengelilingi alun-alun kidul, sayang karena terlalu ramai, kami memilih untuk mencari tampat yang lebih lapang lalu kami berjalan sampai di malioboro, disana kami duduk di kursi di pinggir jalan dan menikmati indahnya suasana malam di malioboro saat itu, sambil bertukar cerita dan tanggapan akan kisah hidup kami, kawan saya lainnya sudah mengingatkan saya untuk menyiapkan banyak uang koin jika akan “nongkrong” di malioboro, karena akan banyak sekali pengamen yang menghampiri dan akan sedikit mengganggu jika tidak diberikan uang, tidak lupa kami juga makan sekoteng dan lumpia yang memang sudah saya kenal dan selalu mampir setiap saya ke Jogjakarta.