Friday, May 10, 2019

Why would you do that? (Part I)

Why would you do that?
Sering orang2 terdekat saya bertanya demikian, biasanya setelah saya melakukan sesuatu di luar kebiasaan saya, terutama apa yg saya posting di instagram saya, walaupun mereka meyakini saya memiliki alasan yg kuat dari setiap tindakan yang saya lakukan, seolah mereka harus tahu ide itu muncul darimana, biasanya saya jawab alakadarnya dengan menutupi alasan aslinya dengan gurauan.

Beberapa yang saya tanyakan mengapa mereka menanyakan pertanyaan pada judul post ini adalah karena mereka terbiasa melihat saya sebagai seorang yg introvert, konvensional dan terkadang pemalu, disamping itu saya tidak terlalu banyak membahas sesuatu yang biasanya tidak bersinggungan dengan kepentingan saya, bisa disimpulkan bahwa mereka menanyakan hal tersebut karena merasa ada yang salah dengan perilaku saya, dan khawatir memang ada beban yang benar-benar mengganggu saya sehingga saya berperilaku di luar kebiasaan saya, semoga apa yang saya artikan tidaklah salah.

Hampir di setiap yang saya lakukan adalah didasari dengan sebuah pernyataan dalam hati saya "Anak-anak saya tidak boleh merasakan kesulitan yang saya rasakan." Tentunya kesulitan dalam arti seluas-luasnya, dan perilaku-perilaku asing yang saya lakukan seringkali untuk melihat respon dari riset sosial saya terhadap lingkungan terdekat saya, dan memang sedari kecil saya membangun diri untuk tidak pernah membatasi diri dalam pergaulan saya, walaupun hal ini bertentangan dengan apa yang diajarkan kedua orang tua saya, toh saya banyak mendapatkan pengalaman hidup yang begitu berharga bahkan beberapa ada yg tak bisa diukur rasio akal bagi saya.

Awalnya saya berpikir saya bukanlah orang yang bisa menyimpan dendam, saya belajar dari salah satu film yang paling saya sukai untuk selalu memaafkan tetapi jangan pernah lupakan pelajaran yang didapatkan "Forgiven not forgotten." Saya melakukan hal yang berlawanan " Forgetting not forgiving." Saya memilih untuk menjadi pelupa dibandingkan menjadi seorang pemaaf.

Ternyata saya belum bisa mewujudkannya dengan baik dari apa yang saya pahami, tanpa sadar saya selalu mengingat setiap titik sakit, lelah, resah, dan hal-hal lain (low point of life) dalam hidup saya, tanpa saya sadari pribadi, karakter yang saya bawa hingga saat ini dalah bentukan dari pengalaman-pengalaman yang terus saya simpan tanpa sadar.