Saturday, March 12, 2022

Kehangatan Diam

Melongok sekitar berharap akan terkesan,

Jua harap yang takkan terwujud..

Kembali masuk ke ruang kebencian,

Enggan kembali sampai ke hulu..


Bukan aku yang bersuara,

Bukan juga engkau yang mendengar,

Kini semua rasa bergejolak,

Seolah ingin segera dilahirkan dari rahim ibu..


Belajar memahami arti keheningan,

Usah lara jika kau berdua,

Dalam pekatnya gelap malam,

Maknanya kian tidak berperi..


Seolah sisa hidup hanya untuk mencaci,

Dirobek mulutnya oleh sayatan kata,

Kini terdiam..

Diammu menyeruak di seluruh relung hati..

Inikah kehangatan diam?

Kekosongan Yang Kian Kosong

Kukira hidup kan lebih baik jika berdampingan,

Nyatanya sampai hari ini aku merasakan bahwa hidup ini jauh lebih baik kala kusendiri..

Tak kurasakan keresahan yang tak perlu,

Tak kuhiraukan masalah yang tak ada,

Apalagi menanggung beban yang bisa kuhindari,

Mungkin ini salah satu perjalanan hidup yang harus kutempuh,

Entah berapa lama ku mampu bertahan..

Berdua Namun Sendiri

 Oooh malam..

Tak lagi bisa aku menikmati keheninganmu..

Keheningan yang selalu mampu membasuh jelaga kalbuku yang kian menua,

Kini alamku tak lagi sama, ku tak lagi sendiri..

Ia disampingku, namun ia yang paling jauh..

Ia disisiku, namun ia yang enggan aku temui..

Seolah hidup semakin terpatri pada keresahan,

Seolah hidup semakin terpasung oleh kebimbangan,


Kini aku berjalan menempuh hidup ini,

Seolah berdua namun sendiri,

Berduaku kini lebih sendiri dari sendiriku..


Tak lagi kutanyakan tentang tujuan hidupku ini,

Malahan mundur bertanya arti hidup,

Seolah mengulang perjalanan yang sudah jauh kutinggalkan, seolah berputar dalam pusaran gelombang nestapa...


Wahai sayangku, malam..

Kembalilah padaku,

Peluk erat api pikiranku ini yang semakin hari semakin berkecamuk membakar semua yang sudah kubangun..


Aku merindumu..

Sungguh sangat merindumu..