Thursday, July 24, 2014

Terdalam

Ayahku..
Kecewa dan kesedihan adalah makanan harianku darimu..
Senangpun terlalu..
Remaja kusadar tak ada yang dapat kupinta darimu..
Kini kesadaran ku lebih lagi, kau minta kugantung mimpiku padamu.
Kau buang pula mimpiku, waktuku dan semuanya di depan mataku.

Ibuku..
Aku disampingmu selalu..
Dan akan tetap begitu, sedari dulu hingga nanti aku mati.

Kini kubuat lagi beribu mimpi dengan berjuta keringat.
Harap cemas ayahku tak tahu.
Rusak di hidupku perlahan kuperbaiki.
Semoga menjadi yang sebaik-baiknya diri ini.

Sedari dulu tak pernah kulihat emas di tangan.
Sedari dulu hanya taman dan teman.
Kini ku tanam mimpiku di taman itu bersama teman.
Kuharap ku mampu maju dan bertahan.

Tuesday, July 22, 2014

Kepada : Bangsa Indonesia

Bangsaku yang kusayang..
Sungguh terlalu lama aku berdiam padamu bangsaku yang terlalu cerewet.
Si malas masih tertidur, si bodoh sibuk memecah belah, dan yang serakah tak malu makan dari keranjang kotoran.

Aku tidak duduk jauh darimu bangsaku.....

Sesungguhnya sekian lama ini, aku sudah menjadi kami.
Kami bersantai, bersenda gurau dan belajar sembari berusaha menghabiskan kopi di tanah air ini.

Kami disini, maka datanglah....

Ceritakan sejauh mana resahmu, sungguh kami adalah saudara sebangsamu yang sedarah indonesia.
Bawa keluh kesahmu pada kami, usah kalian lara sendiri. Menebar paku di kasur kalian, membakar halaman rumah kalian sendiri.

Ajak pula kawan kita yang lupa keluarganya itu, sampaikan bahwa Indonesia merindukan mereka.

Pikirannya yang maju dan begitu kritis itu, jiwanya yang begitu lapang dan semangatnya yang menyala! Sungguh kami butuh mereka untuk membuat baju dan membangun kembali bersama tembok rumah yang mulai hancur, pilar yang bergeser dan atap rumah kita yang sudah hilang.

Demi ibu pertiwi kutunggu kalian besok di depan rumahku sehabis subuh..


Saudara sebangsamu sedarah Indonesia!

Kawan-kawanku

Cucur keringat di sore itu bukanlah sesuatu.
Panas dari terik mentari pula yang kita puja-puja.
Hujan pun tetap menjadi mimpi indah di siang hari.
Udara campur debu hanyalah musuh kita yang tidak berdaya.

Kawan-kawanku sayang..
Rindu hati ini tertawa.
Sungguh kenangan hanyalah dimensi waktu yang beku.
Namun melumer saat kita bertemu menjilati kenangan itu.

Kawan-kawanku sayang..
Doaku pada Tuhan untukmu dan kami.
Tak ragu sepatah kata pun dari hati ini berucap.
Untuk kalian, kawan-kawanku yang kusayang.

Thursday, July 3, 2014

Yaaa Tuhanku...
Manusia kini kembali buta.
Tak mampu lagi melihat siapa Tuhannya.
Ada yang bilang materi.
Ada yang menyaut teknologi.

Dusta!

MendustaiMu lagi..
Mengotori lagi nurani.

Kuyakin kelak, manusia hanya akan terbelenggu oleh ambisi.