Mencintai dari fisik adalah semurah-murahnya cinta yang murah.
Tapi akan kucintai dirimu dari sukmamu atas izin Tuhanku.
Andai caci maki di depan mata, samping telinga.
Tak ku hiraukan jua segala imajiku.
Gadisku...
Kini bayangmu sudah bukan hanya milikmu seorang.
Namun juga milikku.
Pun bayang milikku..
Kirab debu kemarau tak lagi yang mereka hisap.
Kini hujan turun diantara kemarau itu.
Matamu bagai pintu menuju semesta yang tak pernah kutahu.
Senyummu bagai deru aliran darah bagiku, dengan apapun makna hadirnya.
Usah risau sepi itu kini.
Kau hadir dan Ia telah memberi lebih dari yang kupinta.
Simpan mawar yang kuberi..
Kelak hatinya kan tertanam dalam cintamu.
Bukan dariku, tapi dariNya untuk kita.
Sungguh aku milikNya dan kaupun sama.
Tapi akan kucintai dirimu dari sukmamu atas izin Tuhanku.
Andai caci maki di depan mata, samping telinga.
Tak ku hiraukan jua segala imajiku.
Gadisku...
Kini bayangmu sudah bukan hanya milikmu seorang.
Namun juga milikku.
Pun bayang milikku..
Kirab debu kemarau tak lagi yang mereka hisap.
Kini hujan turun diantara kemarau itu.
Matamu bagai pintu menuju semesta yang tak pernah kutahu.
Senyummu bagai deru aliran darah bagiku, dengan apapun makna hadirnya.
Usah risau sepi itu kini.
Kau hadir dan Ia telah memberi lebih dari yang kupinta.
Simpan mawar yang kuberi..
Kelak hatinya kan tertanam dalam cintamu.
Bukan dariku, tapi dariNya untuk kita.
Sungguh aku milikNya dan kaupun sama.