Saturday, February 28, 2015

Kidung Pagi Ini

Aku teramat merindu..
Hingga terasa sakit.
Perlahan merambat di dinding hati.
Tak terobati hingga mati..

Bersama waktu kubenam gairah ini.
Diantara pasir yang 'kan kandas tertiup angin,
Lalu bangkit kembali menghantui.

Batas hari di nanti,
Di ambang nestapa juga suka.

Aku ingin berdua denganmu..
Diantara bayang dedaunan,
Disirami binar senyummu..
Dihujani wangi kulitmu..

Kutunggu di pagi nan cerah,
Kutunggu sosokmu.
Kunanti cumbu rayumu,
Kunanti canda tawamu..

Pasir itu kini sirna sudah..

Tak mungkin kurejam,
Tak mungkin jua kupendam.
Tak mungkin kubuang.
Namun bisa 'kan terhempas.

Friday, February 27, 2015

Darah Lelaki

Diantara kami bertiga..
Ia telah tiada.
Diantara kami berempat..
Ialah darah lelaki.

Di angkasa ialah elang.
Di samudera biru penguasa.
Di daratan ialah singa.

Jangan sekalipun lupakan.
Darahnya mengalir deras diantara daging kami.
Jangan sekalipun lupakan.
Jiwanya hidup kekal dalam sukma kami.

Sekalipun kau berkata.
Kami adalah kami.
Semualah karunia Sang Pencipta.

Friday, February 20, 2015

Lagu Cinta - Dewa 19

Aku jatuh cinta..
'tuk kesekian kali..
Baru kali ini kurasakan,
Cinta sesungguhnya
Tak seperti dulu
Kali ini ada pengorbanan..

Cinta bukan sekedar kata-kata indah,
Cinta bukan sekedar buaian, belaian, peraduan..

Samudera cinta dari palung hati,
Tak terukur dalamnya hingga saat,
Perpisahan tiba..
Mengundang air mata,
Atau hanya secuil penyesalan..

Cinta bukan sekedar kata-kata indah,
Cinta bukan sekedar buaian, belaian, peraduan..

Cinta adalah ruang dan waktu,
Datang dan menghilang..
Semua karunia Sang Pencipta.

Mungkinkah kamu sedang menatap bulan,
Bulan sabit yang sedang kupandangi.
Mungkinkah kamu menangis,
Di atas bintang khayalku.

Cinta bukan sekedar kata2 indah,
Cinta bukan sekedar buaian, belaian, peraduan.

Maafkanlah cinta atas kabut jiwa,
Yang menutupi pandangan kalbu..

Cinta bukan sekedar kata2 indah,
Cinta bukan sekedar buaian, belaian, peraduan..

Cinta adalah ruang dan waktu,
Datang dan menghilang..
Semua karunia Sang Pencipta..

Elang Nusantara

Aku hanyalah lelaki..
Yang kedua dari yang terbaik.
Hanya langit seluas yang tak kau tahu,
Hanya langit sekokoh yang tak kau tahu.

Aku adalah elang nusantara,
Putra kedua namun dari semesta.

Bukan salahku,
Jika tatapku setajam pedang baja.
Bukan salahku,
Jika hatiku sekuat adamantium.

Tak ada tapi untukku,
Namun ada jika Mau.
Tak ada belas kasih untukku,
Namun ada jika Mau.

Thursday, February 19, 2015

Lelaki Sepertiku 2

Jangan kau bilang dia tak sendiri,
Jelas aku tahu wanita secantik dia.
Jangan kau bilang susah padaku,
Jelas aku tahu apa yang aku hadapi.

Jangankan hanya seribu,
Sejuta pun akan kuganti.
Jangankan hanya hati,
Kau tahu aku lelaki.

Pintaku

Tetaplah tegak berdiri..
Saat kau lemah, andai datang padaku..
Kan kulindungimu,
Hingga kau rasa tiada 'kan mampu lukaimu..

Usap air matamu,
Hanya senyum yang pantas kau pajang di parasmu.
Usah gelisahmu itu, andai datang padaku..
Kusemai zen di hatimu dariNya.

Tuhan kuminta satu MahakaryaMu.
Bukan sombong,
Namun hanya dia yang kumau untukku.

Kisahku

Aku lelaki,
tak mungkin ku lari saat bayangmu menghantui.
Kuhadapi dengan mukaku,
Keringat jagung muncul di malam hari.

Hanya belum tahu harus bagaimana,
Saat kurindu tatapmu.
Hanya belum tahu harus bagaimana,
Saat kurindu senyummu.

Apalagi binar rembulan malam ini serupa kilau wajahmu,
Hanya harap cemas,
Mentari segera jemput rindu yang kau titip.

Ku pernah dititip rindu,
Namun tak ada yang sebesar milikmu.
Celakanya,
Ku tak tahu rindumu kemana harus ku alamatkan.

September Biru

Saat asmara membisu,
Hanya dengar kata berpalu,
Memecah hati menjadi keping-keping tak terhingga.
Tak tahu bakal begini.

Andai kau hitung langkahku,
Sungguh ia lah tempat yang kutuju duniaku.

Kisahnya hanya sekejap mata bagiku pun baginya.
Namun sungguh sangat berbeda.
Tak ada hidup yang lebih hidup saat september biru.

Ooooh september biruku..
Daun melambai dibawa angin..
Serupa jingga diberi merah hati.
Kala kau sapa, dunia siapa peduli.
Kala kau sapa, asmara semua orang rasa.

Jangan pingit inginmu hanya demi bumi,
Ia rela berimu semesta.
Hanya perlu kau jawab inginku.



Isyarat Syarat

Kenangmu

Usah kau kenang kisah tak tertulis..
Hanya lukai curiga.
Andai langit benar tak bertepi,
Seperti itu yang kumau untukmu.

Haruskah kuulangi lagi?
Arus sepi yang 'kan bawamu kembali.
Hanya untuk memeluk hati,
Hanya untuk selamanya untukku.

Kania

Engkaulah angsa di danau malam,
Berlumur cahaya rembulan diantara hening.
Kau tengok dalam dari air untuk matamu,
Hanya ada rindu namun enggan.

Suratan bukan lagi penantian,
Waktu beranjak pergi meninggalkanmu.
Namun tidak cintaku..

Aku datang untuk mawas diri,
Namun 'kan kembali untuk berdiri.
Elokmu bukan hanya kisah belaka,
Kelak dunia melihat angsa seelok di mataku.

Sunday, February 15, 2015

Bukan Aku dan Kau yang Dirimu

Wanita bukanlah cinta,
Lelaki juga bukanlah cinta.
Cinta adalah rasa,
Gelora rasa yang jadi asa.

Nyanyilah di tengah sepimu..
Menarilah di antara sedihmu..

Aku diam sendiri,
Bukan sendiri dalam kata.

Namun tetap kuarungi sang malam..
Hingga kau sadar,
Kau tiada pernah sendiri.

Cinta dikandung badan,
Serupa ibu mengandung aku.
Begitupun engkau,
Mengandung cinta yang kelak 'kan tumbuh.

Bukan Dirimu dan Aku yang Aku

Cintamu mungkin ada di ujung pelangi.
Tapi aku hanya lelaki,
Tak mungkin kukhianati Inginku.

Biar hati tetap bersua, kutiadakan selamat tinggal

Memang hanya waktu yang tahu nanti.
Tapi aku hanya lelaki,
Tak mungkin untuk diam dan menanti.

Wednesday, February 4, 2015

Desersi

Setangkup kehangatan bersamamu..
Secarik kisah kutulis denganmu..

Bukan begini inginku kini.
Kelak kan terjadi kala kulupa.
Itu janjiNya.

Di antara kita.
Jiwa bertatap namun wajah berpaling..
Enggan berkata iya.
Remuk untuk berkata tidak.

Ingkar adalah kita.
Terluka jua asa terasa..

Walau hujan yang dinanti di padang pasir.
Namun mentari yang kan selalu ada.
Walau bahang yang dinanti di kutub selatan.
Namun salju jua yang setia padanya.

Biarkan semesta menyimpan rahasia milikNya.

Pelindungmu

Akulah elang..
Kuasaku adalah angkasa luas Sebumi ini..

Bukan kau yang kucari..
Namun wangimu yang kujilati..

Hanya sekadar datang lalu pergi, bukan diriku.

Kan terus kulamuni angkasa.
Kupandangi kau dari sana.
Buang takutmu dalam jerami.
Kelak kan kubakar dengan tatap mentari.

Takkan ada panas untukmu..
Sayapku teduhkanmu..
Takkan ada dingin bagimu..
Sayapku menghembuskan hangatnya untukmu..

Dimensi Angan

Berusaha kugapai bayangmu.
Meraih searah mentari pagi.
Agar dapat selalu kudekap.
Enggan kulihatnya dimakan sang waktu.

Kala kuingat, hanya sebutir gula yang tersisa.
Kelak maniskan sisa hidupku.

Walau waktu habis menelan jiwaku.
Walau kuhalau semua inginku.
Walau ku dustakan mimpiku.
Rasa ini takkan usai.

Angan kuterbangkan ke langit.
Biar tergantung bersama bintang.

Antara kau dan bulan.
Aku di sana..
Bersemayam dalam mimpimu.
Yang takkan lelah walau dihempas sang waktu.