Tuesday, October 20, 2015

Epilog

Aku mau, tapi aku tahu bagaimana.
Aku mau, tapi aku tahu mengapa.
Aku bisa, tapi aku tak mau.
Aku bisa, tapi aku tak punya alasan.

Rindu memang rindu, bahkan ruang rindu yang kau cipta begitu menyiksa.
Namun awal dan akhir tiada kita tahu, kita berada diantaranya.
Penuh tanya seraya berkata iya, kau melangkah, juga diriku.

Namun kutahu kemana arahmu melangkah sedang aku tak mengerti.
Aku tahu kemana aku melangkah namun tak tahu mengapa.

Bukan diriku, jangan diriku.
Kau siksa aku dengan bayang senyummu.
Kau siksa aku dengan bayang manis tawamu.

Oh sayang, jangan kau datang malam ini.
Aku sedang nikmati siksa rindumu yang semakin hari semakin berapi.
Usai semua pikiran salahmu, kau kini bersama yang tak kutahu benar adanya.
Tak mengapa asal kau bahagia.

Salam untuk kesendirian kita, nanti.

Hitung Mundur

Gelisah menanti dan berharap.
Macan tertidur dalam sangkarnya, sementara melati mengelilinginya.
Bukan kuasaku membukanya, sekalipun ada elang yang masih mampu meraihku dengan paruhnya..

Tetap menunggu sesuai dengan amanat untukku..
Aku berdiam dalam ketakutan untuk menjaga yang kurasa tak pantas untukku..
Lain waktu aku coba minta.
Kali ini kudiam saja.

Ruang Hampa

Aku berada di ruang hampa udara..
Bukannya sedih, hati ini justru gembira..
Bosan dengan asap dan peluru..
Bosan dengan wanita..

Aku sendiri dalam ruang hampa udara, pintunya terbuka menuju tanah yang kering dan berangin..
Beberapa rerumputan tinggi berayun seirama, lainnya ada sedikit di kaki..
Entah bagaimana aku bisa disini.
Aku ingin sendiri dalam hening sembari  berjalan menuju ke ketiadaan.

Kulihat bukit menyapa mentari diujung pagi.
Berpeluk hangat lalu bersenda gurau..
Bagai kawan lama tak bersua..
Andai hujan diami tanah ini, kering pasti sudah tiada.
Yang ada hanya manusia, dan rumput untuk dimakan.

Semusim

Lalu aku larut dalam lamunanku bersama bintang-bintang di angkasa..
Terendap di antara hembusan angin yang membawa air menuju bibir pantai..
Arah tak lagi terbaca, walau kutau yang kumau..

Keadaan tak lagi sama dengan kemarin saat aku di atas langit..
Kini aku berada di tanah bersama anjing tanah bernanah..
Dihina, ditendang dan dimaki..
Hati tak lagi tenang..

Ingin percaya namun tidak boleh.
Mereka berbisik bahasa yang tak kumengerti seperti desis ular..

Aku tahu cinta sejati itu ada..
Cintaku padaMu..
Hanya untukMu..
Kembalikan ketenangan itu kembali untukku..
Peluk hangat rongga dada yang makin hari semakin sepi ini..

Tuhan..
Tak kulihat akhir di jalanku, namun hanya Engkau yang tahu takdirku..
Kutahu semua ini yang terbaik, selalu kuusahakan ikhlas menjalaninya.

Pelukmu

Dan aku teringat betapa hangat dan nyamannya pelukmu..
Betapapun kunanti untuk ada yang menyamai rasanya, namun tak pernah ada..
Betapapun kurindukan untuk kembali..
Namun terkadang pilu dirasa buat hati berpaling..

Malam ini kurasa langit begitu pekatnya, hingga buihnya terasa di lidah..
Bukan untuk lamunan semata, namun rasa tiada berdusta..
Kurindukan pelukmu malam ini..
Ingin kuciumi senyummu sepanjang malam yang abadi nan sendu..

Thursday, October 8, 2015

Lelaki Pecemburu

Aku cemburu dengan apa yang ada di dekatmu.
Aku cemburu dengan mereka yang bisa melihat senyummu setiap hari.
Aku cemburu dengan mereka yang setiap hari bertemu denganmu.

Aku lelaki, yang sedang cemburu.
Akulah lelaki, yang sedang membara hatinya.

MENCINTAI KAMU!

Tuesday, October 6, 2015

Sisa Keikhlasan

Kita hanyalah manusia,
Bagian kecil dari hamparan semesta.
Bagian yang besar dari segala tanya.

Eksistensi maupun ketiadaan sungguh tiada berharga.
Waspada dan harap cemas.
Haus akan pelukan.
Kering dan rapuhnya terasa di dada,
Ingin disayangi..
Ingin dirindukan..
Namun enggan untuk berkata.

Menangislah!!
Kita hanya manusia..

Tidakkah kita sadar kehampaan adalah dunia ini.
Hanya satu yang kita cari.
Keabadian dan yang Maha Kuasa.
Usah lelahmu itu akhiri cerita.
Usah deritamu itu buatmu terluka.

Kepingan kisah saat ini biarkan tertinggal di ruang hampa.
Mari ikut bersamaku berjalan menuju CintaNya..
Cinta yang selama ini kalian cari.