Sunday, April 23, 2017

Kesaksian Pagi

Kala mata kupejamkan pada malam itu,
Menanti fajar yang dijanjikanNya.
Kurasa detik adalah masa dalam secangkir kopi,
Senantiasa membuat kita terjaga.

Kala mata ini kubuka lebar pada malam itu,
Masih pula menanti fajar yang dijanjikanNya.
Seperti angin yang berhembus di lautan sepi,
Senantiasa menyeka debu di hamparan lantai.

Kupandangi sekitarku dengan seksama,
Kutatapi satu potret di atas meja,
Yang sudah menjadi buku,
Yang meratapi kesedihan manusia,
Yang memahami kegelisahan manusia,
Yang membawa cahaya bagi manusia.

Yaa Allah,
Aku bersaksi tiada Tuhan selain Engkau,
Aku menghamba kepadaMu,
Maka tuntunlah Hamba menjadi yang baik,
Maka tuntunlah kami menujuMu,
Negeri yang Engkau janjikan bagi orang yang baik,
Negeri dimana Hamba bertemu denganMu.

Thursday, April 13, 2017

Merajut Sepi

Satu demi satu hari kurajut,
Bukan bahannya yang tak bagus,
Hanya tanganku yang belum mahir.

Satu demi satu bulan kurajut,
Bukan bahannya tak bagus,
Hanya tanganku yang belum mahir.

Kini baju itu sudah ada banyak,
Bukannya kupakai, malah kubuang.
Bukan karena jelek,
Namun aku takut untuk memakai yang tidak baik.

Satu demi satu Tahun kurajut,
Bahannya cukup baik,
Hanya tanganku yang belum mahir.

Kini baju itu kupakai,
Bukan untuk menutup malu,
Hanya sekadar penghangat dikala dingin,
Mungkin kelak kan memaki.

Penyesalan

Oh egkau yang datang terlambat,
Tega nian kau membuat kami begini.
Terhempas di utara dan selatan sendiri.
Tiada orang untuk berbagi sembari menanti.

Oh engkau yang datang terlambat,
Sudah kuduga engkau pasti kan datang,
pasti terlambat pula,
Entah mengapa sudah pasti kau kuundang.

Oh engkau yang datang terlambat,
Sudah kuseka kirab raut wajah yang bergemuruh.
Tak pula engkau lihat dan tak pula engkau segera pergi.
Sudah pasti kau bukan teman yang baik.

Oh engkau yang datang terlambat,
Kini hanya ada engkau dan aku,
Temani aku, jangan tanya hingga kapan,
Karena mungkin hingga kumati.

Monday, April 3, 2017

Kaum Pelupa

Tega betul manusia sampai bisa berpikir bahwa bumi ini adalah miliknya.
Tak dilihat Laut, Angin, Gunung dan yang bernyawa.
Sudah jelas kadarnya manusia di bumi ini.
Bukan karena mereka tak berkehendak lantas kita tindas.
Kita harus belajar ikhlas di Bumi ini.
Kita harus menjadi manusia untuk bisa menjadi pemimpin yang baik.
Kita harus kuat saat yang Maha Berkehendak sudah berkehendak, walau terkadang asing dan tak terdengar.

Oh Angin, maafkan kami yang lupa.
Oh Gunung, maafkan kami yang lupa.
Oh Laut, maafkan kami yang lupa.

Sebegitu angkuhnya kami yang enggan hidup berdampingan dengan kalian,
Bukan karena hebat melainkan kebodohan yang melalaikan.

Wahai Angin, kami pun anak seperti kalian.
Wahai Gunung, kami pun belajar seperti kalian.
Wahai Laut, kami pun berlatih seperti kalian.

Kami meminta,
Izinkan kami, sekali lagi duduk berdampingan dengan kalian di HadapanNya.