Thursday, July 12, 2018

Bisikan Bidadari Malam

Bisakah kau mendengar kesepian ini?
Menyeruak ke angkasa.
Bisakah kau merasakan keheningan ini?
Merebak ke dalam rongga dada.

Tak habis kau usap peluh deritamu,
Kehidupan begitu janggal kau dapati.
Tak usah senyummu itu menipu dunia,
Biar kukatakan yang sebenarnya pada mereka.

Kau minum air panas dari cangkir biru langit,
Sesaat kau diam,
Merenungi waktu yang begitu kejam,
Tak henti pula kau menjalaninya,
Entah kerelaan atau keterpaksaan yang buatmu begitu,
Bagiku sama saja,
Kau terlihat lelah dan bersedih.

Bermuram berusaha terlihat,
Bersinar berusaha terlewat,
Kau ingini yang bukan saatnya,
Kau hindari yang bukan saatnya.

Cobalah sekali lagi kau merindunya,
Kuyakin takkan kau sesali,
Amarahmu padam,
Semangatmu patah,
Apalagi yang buatmu hidup selain kerinduan itu?

Bukalah!
Bukalah peti usang itu, sayang.
Kisah yang begitu lama kau pendam,
Kisah tanpa dusta dan tipu daya dunia.

Kuyakin itu pula yang kau ingini,
Sejenak berlari dari takdir yang memekik memecah telinga,
Mengharu birumu tanpa ampun.

Biarlah kau kini denganku,
Menikmati malam bersama sang rembulan yang hendak bernyanyi,
Menari bersama bintang-bintang,
Hembusan angin yang kian merdu dan bergairah,
Biarkan kami bercinta semalaman bersama malam.