Monday, October 21, 2019

Kehampaan (3 Dalam 1)

Apakah yang dicarinya?
Mengapa ia melangkah tegap dan pasti menuju ke ketiadaan?
Bagaimana jadinya bilan hidup mengecewakannya?

Nampaknya ia sudah terbiasa dengan itu,
Nampaknya ia sudah terlatih dalam menghadapi kekecewaan hidup.
Namun yang jadi perhatianku adalah bagaimana ia terlihat begitu kesepian?

Mengapa kau memperhatikan itu?
Sementara tidak pernah sehari pun dia menjalani hari dengan kesendirian?
Bagaimana ia bisa merasa sepi?

Entahlah,
Kulihat dari matanya hanya satu bayangan yang ia lihat,
Dan itu masa lalunya yang sudah lama ia lalui.

Darimana kau tahu itu?
Bagaimana kamu menilainya demikian?
Apa yang menjadikanmu memperhatikannya?

Intuisiku berkata demikian,
Dengan melihat ia menjalani harinya, seolah "apapun yang terjadi hidup akan terus berlanjut hingga mati" dan aku melihat ia menanti sebuah keajaiban yang akan dibawa oleh waktu.
Aku merasa iba, karena yang kulihat adalah jalan buntu..

Kapasitas Manusia


Bahwa manusia memiliki kapasitas adalah benar adanya, dan kapasitas itu berlaku pada setiap unsur kehidupan manusia. 

Salah satunya adalah kapasitas dalam menggunakan perasaannya, beberapa kawan saya sempat mengeluhkan “Apa gue terlalu baik ke mereka ya?” Menurut saya pertanyaan atas keraguan itu bisa dijawab dengan kata “Iya.”, karena manusia pada hakikatnya harus bisa mengasah kemampuannya dalam mengendalikan instrument dalam dirinya yang menjadikannya sebagai manusia yang utuh yang dibawanya sejak manusia itu lahir.

Kita analogikan perasaan itu ibarat gelas, gelas tersebut hanya bisa menampung isi sesuai dengan kemampuannya, bilamana gelas itu dituangi air melebihi kapasitasnya, airnya akan terbuang percuma, sama halnya dengan kebaikan yang kita berikan kepada orang lain. Pada hakikatnya manusia dapat merasakan kasih yang diberikan orang lain kepada dirinya, tapi terkadang kemampuan memberi seseorang tidak berimbang dengan kemampuan orang lain dalam menerimanya, terkadang juga sebaliknya, sebagian orang yang terbiasa menampung kasih yang begitu besar, bisa merasakan kurang bilamana kasih yang diterimanya dirasa tidak cukup. Adapula orang yang memiliki kapasitas penerimaan kasih yang banyak, namun terbiasa dalam menerima kasih yang sedikit, hal ini bisa menjadikannya manusia yang terbiasa bersyukur ataupun selalu haus akan kasih.

Dan kapasitas-kapasitas ini tidak hanya berlaku pada perasaan manusia, ada juga kemampuannya dalam menyerap pengetahuan, dalam menanggapi masalah dan lain sebagainya. Saya belajar untuk membiasakan diri dalam menimbang kadar-kadar manusia dari bagaimana dia bertutur kata, berperilaku, berpikir dari yang terucap, dan berharap dari perilaku yang ditunjukkannya. Jikalau kita ibaratkan kesadaran adalah sebuah lingkaran kesadaran inti ada di dalam lingkaran dan lingkaran lain di luarnya, itu akan membagi kesadaran manusia dalam beberapa level, saat manusia bisa menganalisa kesadaran-kesadaran ini, manusia itu telah masuk ke dalam fase kehidupan yang lebih dewasa.

Ini yang saya pelajari dari hidup, dan saya menuliskannya disini karena kapasitas tampung ini sudah penuh dan harus saya tuangkan kepada sesuatu yang kiranya bisa bermanfaat bukan hanya bagi saya, dan hal ini saya timbang karena pemahaman ini saya rasa sangat bermanfaat dalam menyikapi hidup saya sehari-hari maupun dalam berhadapan dengan orang-orang baru dan bahkan saya mendapatkan sudut pandang baru terhadap lingkungan terdekat saya.


Semoga Bermanfaat

#Nowplaying The Smiths -Ask

Monday, August 5, 2019

Just The Way You Are - Billy Joel (Lyrics)

    Don't go changing to try and please me
    You never let me down before, mmm...
    Don't imagine you're too familiar
    And I don't see you anymore..

    I would not leave you in times of trouble
    We never could have come this far, mmm..
    I took the good times, I'll take the bad times
    I'll take you just the way you are..


Don't go trying some new fashion
Don't change the color of your hair, mmm..
You always have my unspoken passion
Although I might not seem to care..

I don't want clever conversation
I never want to work that hard, mmm..
I just want someone that I can talk to
I want you just the way you are..

I need to know that you will always be
The same old someone that I knew..
Oh, but what will it take till you believe in me
The way that I believe in you?

I said I love you, that's forever
And this I promise from the heart, mmm..
I couldn't love you any better
I love you just the way you are, right..

I don't want clever conversation
I never want to work that hard, mmm..
I just want someone that I can talk to
I want you just the way you are..
____________________________________________________________________

There are so many great songs that i always pleased to hear everyday, but this song in particular is so special to me for it's lyrics and a homey nuance that brings into my mind, it feels so special.

And i use this song as a cure for a long and exhausting day of my routines, mostly when i am out of town and sleep at questionable bed sheet (i don't like using a bed sheet), and i always hear this song while i'm hot showering before i go to sleep or while i'm sipping my hot americano before i go to sleep. Yes! i am that weird, caffeine makes me relax and sleepy.
Enjoy the song!

Tuesday, May 14, 2019

Loneliest - Incubus (Lyrics)

I have forgotten what it feels like
I don’t remember it’s true
It will take all I have left to make this right
But I’d like to try it with you

I’m the loneliest I’ve ever been tonight
I’m the loneliest I’ve ever been, that’s right
I’m the loneliest I’ve ever been tonight
I’m the loneliest I’ve ever been tonight

I have forgotten what it tastes like
I don’t remember, do you?
Oh, it’ll take all I have left to work this out
Oh, push on ‘til I’m breaking through

Oh, I’m the loneliest I’ve ever been tonight
I’m the loneliest I’ve ever been tonight
I’m inspired by your proposition, but I don’t trust my intuition
I’m the loneliest I’ve ever been tonight

Yours is the curtain that I’d like to pull back
But I can’t be certain that you’re really real
Yours is the curtain that I’d like to pull back
But I can’t be certain that you’re really real
Real
Are you really, really real?

I’m the loneliest I’ve ever been tonight
I’m the loneliest I’ve ever been, that’s right
I’m inspired by your proposition but I don’t trust my intuition
So I guess I’m going digital tonight

Friday, May 10, 2019

Why would you do that? (Part I)

Why would you do that?
Sering orang2 terdekat saya bertanya demikian, biasanya setelah saya melakukan sesuatu di luar kebiasaan saya, terutama apa yg saya posting di instagram saya, walaupun mereka meyakini saya memiliki alasan yg kuat dari setiap tindakan yang saya lakukan, seolah mereka harus tahu ide itu muncul darimana, biasanya saya jawab alakadarnya dengan menutupi alasan aslinya dengan gurauan.

Beberapa yang saya tanyakan mengapa mereka menanyakan pertanyaan pada judul post ini adalah karena mereka terbiasa melihat saya sebagai seorang yg introvert, konvensional dan terkadang pemalu, disamping itu saya tidak terlalu banyak membahas sesuatu yang biasanya tidak bersinggungan dengan kepentingan saya, bisa disimpulkan bahwa mereka menanyakan hal tersebut karena merasa ada yang salah dengan perilaku saya, dan khawatir memang ada beban yang benar-benar mengganggu saya sehingga saya berperilaku di luar kebiasaan saya, semoga apa yang saya artikan tidaklah salah.

Hampir di setiap yang saya lakukan adalah didasari dengan sebuah pernyataan dalam hati saya "Anak-anak saya tidak boleh merasakan kesulitan yang saya rasakan." Tentunya kesulitan dalam arti seluas-luasnya, dan perilaku-perilaku asing yang saya lakukan seringkali untuk melihat respon dari riset sosial saya terhadap lingkungan terdekat saya, dan memang sedari kecil saya membangun diri untuk tidak pernah membatasi diri dalam pergaulan saya, walaupun hal ini bertentangan dengan apa yang diajarkan kedua orang tua saya, toh saya banyak mendapatkan pengalaman hidup yang begitu berharga bahkan beberapa ada yg tak bisa diukur rasio akal bagi saya.

Awalnya saya berpikir saya bukanlah orang yang bisa menyimpan dendam, saya belajar dari salah satu film yang paling saya sukai untuk selalu memaafkan tetapi jangan pernah lupakan pelajaran yang didapatkan "Forgiven not forgotten." Saya melakukan hal yang berlawanan " Forgetting not forgiving." Saya memilih untuk menjadi pelupa dibandingkan menjadi seorang pemaaf.

Ternyata saya belum bisa mewujudkannya dengan baik dari apa yang saya pahami, tanpa sadar saya selalu mengingat setiap titik sakit, lelah, resah, dan hal-hal lain (low point of life) dalam hidup saya, tanpa saya sadari pribadi, karakter yang saya bawa hingga saat ini dalah bentukan dari pengalaman-pengalaman yang terus saya simpan tanpa sadar.

Wednesday, May 1, 2019

Jogjarockarta 2018 (Part I)

Ceritanya dimulai dari awal oktober 2018, sedari 2 bulan sebelumnya jadwal kegiatan saya bener-bener padat dan susah sekali diatur, terutama menyediakan waktu bagi saya, karena memang waktunya belum tepat untuk memprioritaskan diri pada masa itu.

Di suatu malam, saya lagi buka-buka akun instagram saya, dan saya lihat ada informasi konser megadeth di Indonesia, saya pikir bakal dateng di tahun 2019, ternyata di bulan itu juga dan di jogjakarta yang notabenenya kota favorit saya buat liburan ditambah lagi band metal favorit saya yang notabenenya udah pada tua-tua, takut enggak kebagian nonton konsernya lagi, dengan pertimbangan yang begitu saya nekat beli 2 tiket konser, 1 tiket kereta api buat berangkat dan 1 tiket pesawat buat pulang, booking kamar hotel juga booking rental mobil buat 2 hari selama di jogja.

Sampai 3 hari sebelum jadwal konser akan dilangsungkan, saya masih belum tahu mesti ajak siapa buat nonton konsernya, disamping saya sendiri masih belum yakin bisa dateng, karena kawan-kawan saya juga kebetulan mereka kurang tertarik sama band trash metal satu ini, padahal eargasm yang saya dapet setiap lagi suntuk malam hari atau jogging di pagi hari, lagu2 band ini paling bisa ngegeber semangat saya.

Setelah membujuk setengah paksa beberapa kawan saya dengan iming-iming semua beban biaya saya yang bakal tanggung, akhirnya ada yang mau, walaupun akhirnya dia maksa beli sendiri tiket keretanya. Tugas saya selanjutnya adalah setting kerjaan biar bisa autopilot selama beberapa hari, beberapa janji saya hold, dokumen-dokumen yang harus dipelajari dan dibuat saya serahkan dulu ke salah satu staff kantor dan minta dia buat rangkumannya, tinggal izin ke ayah saya, sedari dulu ayah saya enggak pernah setuju kalau ada anaknya yang nonton konser, apalagi band atau aliran musik keras, akhirnya saya bilang mau naik gunung "Kayaknya" ayah saya kaget, karena terakhir kali saya naik gunung sekitar 3-4 tahun lalu, tapi enggak ngelarang dan saya pun berangkat dengan damai menuju stasiun kereta. Kalau ditanya kenapa saya minta izinnya naik gunung? biar saya bisa matiin telfon saya selama beberapa hari.

Berangkat saya H-1 dari jakarta, mungkin hampir 3 tahun saya enggak naik kereta di Indonesia, dan kali itu rasanya bener-bener saya bisa menghargai waktu dan belajar buat bisa menikmati semua yang ada, I feel that I’m invicible at that moment, because that’s my first holiday in 3 years and I don’t even have a girlfriend for that long so it’s all about my excitement of course, Selain itu terakhir kali saya naik kereta pun udah 2 tahun lalu di jepang, itupun saya mau karena dikasih akomodasi kereta yang boleh ngerokok (Saya perokok berat).

Foto terakhir  saya waktu naik green car (Smoking) shinkansen
**Harap jangan ditiru**
Tapi kalau bukan karena saya enggak bisa ngerokok di kereta, saya suka sekali perjalanan menggunakan kereta, karena saya bisa punya banyak waktu untuk berpikir (Organizing my mind, body and soul) dengan tenang bisa saya katakana menggunakan transportasi kereta api adalah perjalanan meditasi diri juga, karena jika dibandingkan ketegangan yang terjadi dibandingkan naik pesawat (Critical Eleven, Massive Turbulance, Cabin Pressure, dll), naik kereta jauh lebih tenang dan nyaman bagi saya pribadi.

Memang kadang tetap saja ada yang mengganggu seperti penumpang perempuan yang duduk di sebelah saya tidur dengan mendengkur, tapi itu semua merupakan bagian dari keseluruhan pengalaman saya dalam berlibur kali itu. Sesampainya di Jogjakarta pun saya didekati oleh seorang ibu dan anak perempuannya terus bilang “Selamat siang, dek.. Selamat datang di jogja..”, dalam benak saya memang betul orang-orang jogja ini punya budaya sopan-santun, ramah-tamah yang luar biasa dan menjadi factor utama mengapa jogja merupakan destinasi favorit saya untuk berlibur, lantas ibu itu melanjutkan bicaranya “Saya sama anak saya ini, salah turun stasiun dek.. Kita mau pergi ke Malang, tapi kehabisan ongkos..” dan saya pun kaget, bukan karena salah duga dari tujuan ibu ini yang awalnya saya pikir sekadar menyapa dan akan menawarkan dagangan, tapi karena saya tidak tahu apakah ke Malang itu lewat stasiun tempat saya turun, tanpa pikir panjang saya berikan bantuan alakadarnya, karena saya sudah tersiksa dengan rasa yang tidak karuan di mulut saya karena tidak merokok dalam waktu yang cukup lama.

Setelah saya selesai merokok, saya langsung telepon perusahaan sewa mobil yang sebelumnya sudah saya pesan, saat bertemu di stasiun itu saya hanya perlu memberikan paspor saya sebagai jaminan selama saya menggunakan mobil di jogja, tapi naasnya, saya malah lupa bawa paspor yang notabenenya dipegang oleh salah satu staff kantor saya (Karena menunda pengambilan, malah lupa bawa), karena kesepakatan awal adalah jika tidak ada paspor maka akan dibatalkan tanpa pengembalian uang, saya sudah tawarkan beberapa opsi identitas pribadi saya lainnya, tapi karena kesepakatannya sudah ditetapkan di awal dan saya setujui itu, maka saya terima dengan berat hati konsekuensi kelalaian saya.

Sesampainya di hotel, kawan saya yang sudah datang lebih dulu sedang tidur, dan saya rasa fasilitas di hotel itu cukup baik karena banyak turis mancanegara yang menginap di situ, ada yang berbicara bahasa perancis, belanda dan bahasa mandarin juga ada yang berbicara dengan logat batak dan padang.

Malam harinya saya dan kawan saya berinisiatif untuk wisata berkeliling kota jogja, awalnya saya mau cari persewaan mobil lainnya atau motor paling tidak, tapi kawan saya menolak, lebih baik berjalan kaki atau menggunakan taksi online katanya, karena kerelaan dia buat datang, saya hargai dan ikuti sarannya, tujuan pertama kita tentunya adalah nasi gudeg di sekitar alun-alun kidul, sedikit pedas (Saya kurang terbiasa dengan makanan pedas) dan berbeda dari yang saya ingat sebelumnya, beberapa tahun sebelum itu saya ingat betul nikmatnya, tapi tetap saya menikmati hidangan itu karena itu adalah liburan saya juga sedikit senda gurau dengan kawan saya menjadikan kekurangan itu tidak berarti.

Setelah itu kami berjalan kaki mengelilingi alun-alun kidul, sayang karena terlalu ramai, kami memilih untuk mencari tampat yang lebih lapang lalu kami berjalan sampai di malioboro, disana kami duduk di kursi di pinggir jalan dan menikmati indahnya suasana malam di malioboro saat itu, sambil bertukar cerita dan tanggapan akan kisah hidup kami, kawan saya lainnya sudah mengingatkan saya untuk menyiapkan banyak uang koin jika akan “nongkrong” di malioboro, karena akan banyak sekali pengamen yang menghampiri dan akan sedikit mengganggu jika tidak diberikan uang, tidak lupa kami juga makan sekoteng dan lumpia yang memang sudah saya kenal dan selalu mampir setiap saya ke Jogjakarta.

Megadeth - À Tout le Monde (Lyrics)

Don't remember where I was
I realized life was a game
The more seriously I took things
The harder the rules became

I had no idea what it'd cost
My life passed before my eyes
I found out how little I accomplished
All my plans tonight

So as you read this know my friends
I'd love to stay with you all
Please smile when you think of me
My body's gone that's all

A tous le monde
A tous les amis
Je vous aime
Je dois partir
These are the last words
I'll ever speak
And they'll set me free

If my heart was still alive
I know it would surely break
And my memories left with you
There's nothing more to say

Moving on is a simple thing
What it leaves behind is hard
You know the sleeping feel no more pain
And the living are scarred




Sunday, April 28, 2019

1 Body, 5 Minds

Tubuhnya 1, tapi memiliki 5 macam gaya berpikir, mengapa demikian? saya mendapati sebagai orang indonesia yang kesaharian saya beberapa tahun ke belakang ini menggunakan bahasa indonesia formal dalam kesaharian saya, umumnya di dalam kesaharian saya menggunakan bahasa indonesia yang bercampur dengan istilah-istilah dan ekspresi bahasa daerah.
Saya lahir di Cirebon, Jawa Barat, sejak berumur 6 bulan sampai dengan saya berumur 7 tahun saya tinggal di Jakarta, setelah itu pindah lagi tinggal di cirebon hingga lulus SMA dan hingga saat ini menetap di Jakarta.

Yang menarik dari memiliki kemampuan berbicara dalam beberapa bahasa bagi saya adalah, saya bisa mengekspresikan lebih banyak hal dalam pikiran, dibandingkan dengan apa yang saya utarakan kepada lawan bicara saya,  boleh jadi hal ini dikarenakan alam bawah sadar saya menempatkan diri untuk bisa mengemukakan sesuatu yang mudah untuk dicerna oleh lawan bicara saya sesuai dengan bahasa yang digunakan saat perbincangan itu berlangsung, dan perlakuan ini mengalir begitu saja.

Saya memiliki kemampuan berbahasa Indonesia, Inggris, Jepang, Cirebon, Sunda, masing-masing dari kemampuan berbahasa yang saya miliki ini adalah aktif-pasif, karena koridor lingkungan saya dikelilingi oleh orang-orang sunda, saya masih aktif berkomunikasi menggunakan bahasa sunda, juga dengan kawan-kawan saya menggunakan bahasa cirebon, kesaharian saya di jakarta menggunakan bahasa Indonesia dengan orang-orang yang saya temui secara umum, dan komunikasi bisnis yang saya gunakan adalah bahasa jepang, juga bersurat bisnis dengan menggunakan bahasa inggris. Kemampuan berbahasa ini juga membuat saya memiliki fleksibilitas dalam menentukan selera saya terhadap budaya dengan kapasitas penilaian yang lebih luas, seperti dalam selera hiburan untuk memilih musik, film, bacaan, atau selera kuliner seperti makanan, minuman, camilan dan lain sebagainya.

Peristiwa hari ini cukup menarik dan baru saya sadari, dimana saya menonton film di bioskop "Captain Marvel" dengan salah satu kolega saya, ada beberapa hal yang tidak saya sadari dimana pada beberapa bagian film saya tertawa terbahak sementara di studio itu hening, memperhatikan respon saya terhadap apa yang kami tonton membuat kolega saya bertanya "Kamu tadi kenapa ketawa pas Fury bilang Marvelettes?" tanyanya kepada saya, saya jawab "Loh itu kan grup ikonik amerika tempo dulu. angkatan the supremesnya diana ross, the commodoresnya lionel richie?" saya berusaha meyakinkan diri kita memiliki frekuensi berpikir yang sama pada saat itu, "Emang kamu tau?" tanya dia lagi, "Ya tau, makannya ketawa..", dia sedikit heran walaupun tahu selera musik saya yang bisa dibilang kuno atau "Old School" untuk bisa mendapat diksi yang lebih keren terkait hal ini.

Yang juga membuat dia merasa aneh adalah ketika saya juga mengatakan "Aaa... Soukka, Soukka.." sebelum tertawa, ekspresi ini adalah respon langsung yang biasa saya gunakan untuk rekan bisnis saya dalam bahasa jepang sehari-hari, maksudnya adalah "Soudesuka-そうですか", biasa disingkat "Soukka" untuk ekspresi langsung, seperti "Oh, begitu ya?" kalau diartikan dalam bahasa Indonesianya, dan ekspresi-ekspresi seperti ini tidak biasa saya gunakan ketika saya berbicara menggunakan bahasa indonesia formal, kejadian ini mengalir begitu saja, terkadang saya juga tidak menyadari kebiasaan-kebiasaan saya yang seperti ini.

Namun memiliki kemampuan berbahasa lebih dari satu menjadi menarik ketika anda ditarik untuk memahami filsafat dari masing-masing istilah dalam bahasa tertentu, menjadikan anda memiliki kapasitas untuk bisa mengukur sesuatu dari sudut pandang yang di luar dugaan, dengan terlatihnya otak untuk memahami sesuatu yang kompleks dengan cara yang sudah disederhanakan.

Beberapa tahun lalu saya pernah berbincang dengan mendiang buyut saya, pada saat itu usianya 97 Tahun, saya menyebutkan kata "Salju" yang ternyata beliau tidak mengetahui arti kata tersebut, karena memang di Indonesia kata ini tidak umum digunakan dalam kehidupan masyarakat kita sehari-hari. Setelah saya jelaskan, bahwa salju adalah fenomena hujan butiran es yang lembut, beliau sejenak terdiam seolah membayangkan lalu bertanya "Apakah di Indonesia ada yang seperti itu? Karena kata itu baru kali ini didengar oleh saya, atau memang itu bahasa asing?" saya menjawab, "Fenomena alam seperti hujan salju di Indonesia hanya ada di puncak gunung jaya wijaya, irian jaya setahu saya buyut, dan memang bahasa ini sudah menjadi bahasa indonesia, namun saya sendiri belum tahu asalnya dari bahasa mana, mengingat bahasa Indonesia adalah campuran dari sekian banyaknya bahasa.." ujar saya, "Boleh jadi dari bahasa arab.." jawab beliau,"Boleh jadi.." balas saya sambil melanjutkan cerita saya.

Jika dibandingkan dengan sumber informasi yang biasa dan bisa didapatkan masyarakat Indonesia dewasa ini, kata "Salju" memang seperti umum untuk didengar, padahal pada hakekatnya kebanyakan masyarakat Indonesia menggunakan kata ini sebagai sebuah metafora ataupun istilah-istilah yang boleh jadi maknanya berlawanan, namun bisa mengantarkan diksi yang sesuai dengan tujuan mencairkan suasana dan sebagainya. Tetapi Mendiang Buyut saya adalah seorang tokoh agama, dalam kesehariannya menggunakan bahasa cirebon dan kehidupannya saya rasa jarang sekali untuk bertemu dengan kata salju, mengingat beliau sudah sedikit kesulitan untuk membaca maupun menonton televisi sejak beliau berumur 70 Tahun.

Hal-hal seperti pengetahuan kita tentang kata-kata asing seperti ini, yang boleh jadi pada hakekatnya fenomenanya tidak kita temui dalam keseharian kita ini, memang terlihat sederhana, tetapi secara tidak sadar kita menstimulasi otak untuk bisa mengembangkan kemampuannya dalam berpikir, setidaknya mendapatkan kapasitas ekstra dalam merangkum sebuah masalah dan mengolah pengalaman hidup kita untuk bisa menghadirkan solusi-solusi maupun gaya berpikir yang baru, boleh jadi ini yang biasa orang sebut dengan "Thinking Out of The Box", biasakan diri anda dengan sesuatu yang baru untuk bisa menumbuhkan ide baru.

Seperti semisal saat seseorang memiliki kemampuan lebih dari satu bidang, maka kombinasi benih berpikir seseorang bisa memproduksi sesuatu hal yang baru, seperti seseorang yang selalu bisa memasak dengan rasa yang disukai oleh banyak orang , ketika dia menambahkan keahliannya dalam bidang seni, seseorang itu mampu menghadirkan masakan atau hidangan yang tidak hanya rasanya yang enak tapi memiliki impresi lebih dari penyajiannya. Atau bagaimana seseorang yang ahli perkebunan dan memiliki keahlian dalam teknologi informasi bisa menjadikan sebuah penemuan alat baru untuk memasarkan hasil kebunnya.

Pada hakikatnya jika kita bosan dengan keseharian kita, kita jangan lengah dengan kebiasaan, keseharian kita yang cenderung monoton, cobalah hal baru untuk bisa mewarnai kehidupan anda dengan rona-rona yang baru sampai pada titik anda menemukan sesuatu yang benar-benar menggairahkan anda dalam menjalani kehidupan ini, karena otak kita memang seperti kertas putih, bagaimana kita memasukkan warnanya pada warna putih itu adalah keputusan kita sendiri, biasanya bisa diawali dengan bertemu lingkaran sosial yang baru ataupun mencoba hobby baru yang menarik minat anda, biasanya minat anda muncul pada saat yang tidak anda duga dan tidak anda sadari, metode pencariannya adalah cari referensi sebanyak-banyaknya hingga ada sesuatu yang bisa menarik minat anda.

Demikian tulisan ini saya buat dengan tujuan untuk bisa memotivasi bagi para pembaca yang sedang merasa bosan dan bingung untuk mencari alasan memulai sesuatu yang baik tentunya.

Saya mohon maaf jika ada kurang dan/atau salah kata yang boleh jadi tidak berkenan bagi anda, karena saya pun manusia seperti anda (Saya Rasa :D)
Saya juga mohon maaf karena tulisan ini baru bisa diselesaikan setelah menonton Avengers : End Game, dengan tujuan menghindari spoiler film Captain Marvel, karena keterkaitan kasusnya cukup menginspirasi saya.
Kritik dan saran saya sambut dengan baik, jika anda memasukkannya pada kolom komentar.
Sampai bertemu di tulisan saya berikutnya,

Terima kasih,