Rambutmu mengalun kala angin lembut berhembus,
Aromanya terurai ke seisi ruang,
Menenangkan riuh dan gelisah mereka..
Senyummu merekah bagai rona pelangi,
Binarnya menyinari sudut gelap hati..
Kala kau melangkah,
Semua orang berangan untuk menjadi lelakimu,
Dalam imajiku,
Bekas langkahmu ditumbuhi mawar merah dan rumput hijau walau tanahnya tandus..
Saat kau menoleh dan menyapa,
Habis sudah semua hebatku,
Hancur sudah tembok egoku,
Jantung berdegup tak menentu,
Menghempas darah memerah mukaku..
Jangan kau sebut lekuk tubuhnya!
Runtuh juga tebing rinduku,
Derita mana yang sebanding dengan aku tidak memilikinya?
Rona mentari sore itu tak sebanding dengan binar dari matamu,
Kilaunya menyeka gelapnya hati..
Kutahu yang kumau..
Sejarah hidupku mencatat,
Tak satupun wanita yang ingin kumiliki gagal untuk kudapatkan,
Aku lelaki yang seperti itu.
Menenangkan riuh dan gelisah mereka..
Senyummu merekah bagai rona pelangi,
Binarnya menyinari sudut gelap hati..
Kala kau melangkah,
Semua orang berangan untuk menjadi lelakimu,
Dalam imajiku,
Bekas langkahmu ditumbuhi mawar merah dan rumput hijau walau tanahnya tandus..
Saat kau menoleh dan menyapa,
Habis sudah semua hebatku,
Hancur sudah tembok egoku,
Jantung berdegup tak menentu,
Menghempas darah memerah mukaku..
Jangan kau sebut lekuk tubuhnya!
Runtuh juga tebing rinduku,
Derita mana yang sebanding dengan aku tidak memilikinya?
Rona mentari sore itu tak sebanding dengan binar dari matamu,
Kilaunya menyeka gelapnya hati..
Kutahu yang kumau..
Sejarah hidupku mencatat,
Tak satupun wanita yang ingin kumiliki gagal untuk kudapatkan,
Aku lelaki yang seperti itu.