Wednesday, November 28, 2012

Sondre Lerche - Let My Love Open The Door


Originally by :  Pete Townsend


Well People Keep Repeating,
That you will never fall in love.
When everyone keeps retreating,
But you can't seem to get enough.

Let my love open the door,
Let my love open the door,
Let my love open the door
To your heart.

When everything feels all over,
Everybody seems unkind.
I'll give you a four leaf clover,
Take all the worries out of your mind.

I have the only key to your heart,
I can stop you from falling apart.
Release yourself from misery,
Only one there is gonna set you free and that's my love, that's my love.

Let my love open the door,
Let my love open the door,
Let my love open the door,
To your heart.

Tragedy befalls you,
Don't let 'em bring you down
Love can cure your problems,
You're so lucky that I'm around.

Let my love open the door,
Let my love open the door,
Let my love open the door,
To your heart
To your heart
To your heart
To your heart.

Monday, November 26, 2012

Larut Dalam Pelukmu

Detak jantung bagai samudera menghantam karang yang tua..
Hancur karena rapuhnya tak terkira..
Kulit tak mampu berkata hanya berdiam dengan sebuah nama..

Hisap..
Dia menghisap segalanya..

Mimpiku..
Pandanganku..
Pun semua asa termakan pada waktu itu..

Tak terkira dalamnya cinta dinanti hati..
Terasa sepi saat kau tak ada..
Terasa bergetar bumi ini saat kau meradang..

Kau cinta penuh tanya..
Kau dunia penuh canda dan tawa..

Aku meledak!!
Aku meledak!!
Aku meledak tanpa kasihmu..

Aku larut..
Aku larut..
Aku bisa larut dalam pelukmu..

Wednesday, November 7, 2012

Getir

Tak ada siapapun di jalanan ini..

Sepi tak bernyawa..
Lampu temaram hanya melepas dingin untuk dirinya..

Sekali seruan pada pukul 4 memecah kesunyian..
Namun kini hilang ditelan gelagat rusak para penyamun..

Ingin kubakar Bumiku ini!!

Bumi kita!!
Agar semua tertawa..

Lalu tetibanya lemas diujung jemari merangkai kata tak berpuluh kalimat..
Serupa angin malam yang menambatkan dirinya kepada pusaran dalam kota..

Pemenang bertandang..
Yang kalah berlari telanjang..

Sialan kalian yang begitu tega dengan kaum lemah seperti mereka..

Manisnya hidup tak seberapa dibandingkan pahit yang mereka rasakan..
Jilati kaki berdaki kalian demi nafas yang tersengal..
Jilati ludah kalian demi perut yang semakin menyusut..

Hidupnya dikelilingi emas sementara kami hanya makan sampah..

Hatinya dibaluri doa-doa bertuan sementara kami hanya berlumur dosa..

Atas dan Bawah..
Mengapa kalian ada?
Kanan dan Kiri..
Mengapa kalian mencari?
Inilah kami.. Makhluk yang hidup di jaman tanpa belas kasih..
Walaupun getir kini bernada..

Kepada Badai Yang Aku Lupa

Ambruk semua keyakinanmu itu..

Kini kau ada di tengah puing yang menusuk jantungmu dengan besi berkarat..

Hidup di dunia hanya sekali..
Waktu berputar agar kita semua mati..

Dimana ada ruang?

Di sini sesak tanpa minuman..
Di sini dingin tanpa lipuran..

Semua hanya udara yang kau hempas ke angkasa..

Semua memuai dimakan sang waktu..
Semua terjadi dan dibuat nyata oleh sang waktu..

Diakah maha kuasa yang sesungguhnya?

Tak terkira lamanya pohon itu hidup di tepi jalan..

Kini dia roboh dan meronta dari angin yang berkecamuk dikepalanya..
Kini dia roboh dan meronta dari semua dosa di hatinya..
Sebegitu dalam kah sedihnya?
Langkahnya tegopoh-gopoh menuju pendopo para ksatria..
Apa yang diadukannya?

Pengecut itu memang tukang mengadu..
Dia seorang petarung yang lemah..

Tuan Tanah

Betapa indah tanah darah ini..
Berbau dan berasa tanpa merasa..
Orang berbondong berebut, orang bertarung demi dirinya..
Tapi orang meludahi dan menginjak-injaknya..
Namun dia tetap tersenyum..

Sedalam apa sabarnya bajingan ini?

Aku tak mau tinggal diam..
Berdiri dengan kaki kaku haru dengan langkah saru kuberjalan melawan terjangan angin ribut..

Untuk Malam Tanpa Nama

Kunanti siang dan malam..
Ditipu angin menyerbu ke utara..
Mata ditutup kasih tanpa penyeka..
Satu lapis sobek rusak segala..

Palsu!!
Semua palsu..
Senyummu..
Bahkan tawa dan candamu..

Aku ingin tenggelam dalam lautan yang tak terukur dalamnya dan ikut menari..
Aku ingin terbang di angkasa tinggi dan ikut bernyanyi..

Hei kau yang diujung lautan..
Tidakkah kau merindukan tepian hati ini?
Tak ada kering di sana..
Tak ada basah di sini..

Teman adalah belati..
Teman juga susu sejati..

Apakah mati yang membuat redam nan damai?
Apakah air mata takkan mampu berkata?
Apakah nanti kita kan berjalan bergandengan tangan?

Tuhan tahu jawabnya..
Tuhan tahu caranya..
Tapi kita buta..
Tapi kita tuli..
Buta karena dunia, tuli karena dosa..

Oh hidup!!
Berikan aku ini seekor merpati..
Yang bernyanyi di pagi dan mendekap dikala sepi..

Pagiku hitam, malamku kelam
Mana yang memuja mana yang dihina?
Mereka serupa, mereka tak sama..
Sekantung perih yang diberikan hidup, kubalas dengan canda dan tawa seadanya..
Asa terpendam dalam gunung berapi, terbakar hingga kering ke kulitnya..

Monday, November 5, 2012

Disemai Sedih

Angin berderu kencang disemai sedih..
Tetesan air terjun terpecah di bumi..
Hiruk di hati menggelora sendiri..
Merah di bibir hitam di hati..

Meronta..
Dia meronta bagai tak punya kaki..

Roda berputar bertaruh nyawa..
Hiduplah seorang kasih yang merindu bulan..
Datang kasih dalam damainya doa..
Disemai sedih milik pendamba..

Hujan Damai

Hujan turun damai di bumi..
Rindu sendiri dalam hati menyepi..
Susukmu memendam perih..
Sendu nan kelam sukar diobati..

Berpusar ku dalam keheningan malam..
Harap cemas menantinya kelam..

Merangkai kata mendamba cinta..
Kosong di hati muntah di minda..
Dibasuh bulan dengan kerling sang tercinta..