Wednesday, November 7, 2012

Untuk Malam Tanpa Nama

Kunanti siang dan malam..
Ditipu angin menyerbu ke utara..
Mata ditutup kasih tanpa penyeka..
Satu lapis sobek rusak segala..

Palsu!!
Semua palsu..
Senyummu..
Bahkan tawa dan candamu..

Aku ingin tenggelam dalam lautan yang tak terukur dalamnya dan ikut menari..
Aku ingin terbang di angkasa tinggi dan ikut bernyanyi..

Hei kau yang diujung lautan..
Tidakkah kau merindukan tepian hati ini?
Tak ada kering di sana..
Tak ada basah di sini..

Teman adalah belati..
Teman juga susu sejati..

Apakah mati yang membuat redam nan damai?
Apakah air mata takkan mampu berkata?
Apakah nanti kita kan berjalan bergandengan tangan?

Tuhan tahu jawabnya..
Tuhan tahu caranya..
Tapi kita buta..
Tapi kita tuli..
Buta karena dunia, tuli karena dosa..

Oh hidup!!
Berikan aku ini seekor merpati..
Yang bernyanyi di pagi dan mendekap dikala sepi..

Pagiku hitam, malamku kelam
Mana yang memuja mana yang dihina?
Mereka serupa, mereka tak sama..
Sekantung perih yang diberikan hidup, kubalas dengan canda dan tawa seadanya..
Asa terpendam dalam gunung berapi, terbakar hingga kering ke kulitnya..