Thursday, May 30, 2013

Memaki diri

Diamku hanya untuk memaki diriku sendiri.
Agar tak seorang tahu, kujatuhkan tatapanku ke tanah dan level terbawah dari kasta setiap mata.

Debu Diangkasa (7/09/2013)

Separuh..
Semua jenis padaku hanya ada separuh..
Tak satupun utuh..
Entah sengaja atau tidak..

Dunia bergelimang harta di lembah kepalsuan..
Duka mendalam, sepi di hari kini semakin menjerat..
Lidahnya tak henti bergerak ke kiri..
Asa kini pupus karena hanya bisa bermimpi..

Keluhku bertepi di jurang nestapa..
Tak ada jawab, tak ada seorangpun..
Mereka semua pergi membawa jemari bertahtakan emas..

Apa yang kita cari?

Kelak kita kan mati, kawan..
Dustamulah yang akan memakanmu nanti..
Laramu takkan sembuh karenanya pun..

Kuingin katakan kepedihan ini padamu..
Namun siapa aku dan apa dirimu..

Salah keranjang kotor itu kau isi makanan..
Salah kau sediakan sampah di meja makan itu..

Ada satu naungan dalam mimpi..
Naungan yang begitu jauh untukku..
Setengah terluka untuk bisa mencapainya..

Apa ini?
Apa ini?!

Jawab!
Jawab, kawanku!

Kau mati..
Aku mati..
Kau ada..
Aku ada..

Kini sudah tak senada..
Kini remuk semua itu..
Kini tak ada lagi yang bisa kau dapatkan..

Kutahu inginmu..
Namun dunia bukanlah hakmu, tak bisa kau genggam dengan satu tangan dan wajah yang berpaling..

Aku disini yang akan mati karena ulahmu..
Tetap kudoakan kebaikan untuk kita semua, semoga untuk selamanya..
Karena kutahu hidupku kelak 'kan menjadi debu yang terdampar diangkasa..

Friday, May 17, 2013

Wajah Lama

Hanya aku dan beberapa udara malam ini yang bergeming karena alunan lagu, hingga gemericik air mendatangkan penat ke kepalaku.
Terdiam beberapa menit, memejamkan mata berusaha tidur. Namun yang kudapat hanyalah gambar wajah lama dalam kepalaku.
Tetiba, hidupku begitu sedu sedan seperti sore. Para biduan2 itu pun mengubah haluan ke arah negeri melayu yang mendayu bagai rayuan pulau kelapa.
Apa aku hanya merindu, atau kembali terluka?
Apa aku hanya mencoba, atau sudah terlupa?

Tidak satupun hal yang ingin kuingat tentangnya, namun indah adalah jiwa yang merasa. Dia jujur, walaupun dihujam jutaan pedang berkarat tahun lalu. Walaupun diacuhkan dan dibuang oleh orang-orang.

Wajah lama, semestinya kau pergi berbahagia dan tak lagi mengganggu.
Aku terkenang senyummu..
Aku terkenang tawamu..
Namun seketika semua itu adalah kebohongan yang memang kau rencanakan.

Mungkin kini, nanti atau pada waktu tak terhingga kau akan beranak dan berbahagia.
Mungkin kini, nanti atau pada waktu yang tak terhingga aku akan tetap seperti ini.

Kemarin chairil bilang padaku bahwa kami adalah "binatang dari kumpulannya yang terbuang"
Aku percaya itu, melihat nanah yang dulu selalu menetes dari dada dan kepalaku. Dan demi darah yang pernah keluar dari hati yang kering, aku hanya ingin memaknai hidup ini dengan sebenar-benarnya, wajah lama.

Wajah baru nan cantik silih berganti mendatangiku, namun aku takut kepada semuanya. Kadang butuh sejuta jam untuk bisa sedikit merasa dan hanya butuh kedipan mata untuk terlupa.
Wajah lama berbahagialah kamu, aku mengharapkan terbaik, aku masih bisa tulus berdoa untukmu seperti dulu, namun belum bisa kumaafkan semua kebohongan itu.

Kau rajam percayaku yang sudah cacat.

Saturday, May 4, 2013

Hening semalam di bestari

Hening disini
Hanya ada monster hitam yang legeg!
Betapa angkuhnya dia
Tak lupa berderau menyayat keheningan yang kucinta

Saatku sedih, dia malah menggangguku
Aku hanya ingin berdua bersama keheningan
Semalam saja..

Anakku

Inginku anakku kan menjadi pecinta yang selalu tulus
Inginku anakku selalu jadi yang terindah selamanya
Inginku anakku kan jadi suatu yang tidak pernah pecah

Anakku.. ada dan tiada dirimu nanti
Kau harus tahu betapa ku mengharapkanmu dan jangan sampai kau lupa!
Jaga ibumu
Sayangi ibumu
Sesungguhnya dia akan lebih mencintaimu daripada aku kini dan nanti

Air Mata Ibu

Perihnya luka berbalas, bagai ombak yang selalu menghantam karang tanpa lelah
Menampik sedih dengan segala dayanya kepada tuhan

Hatinya kini begitu pilu
Hatinya kini begitu perih

Dia ibuku..
Wanita yang melahirkanku..
Wanita yang selalu mengobarkan api untuk impianku dan adik-adikku

Ingin kurejam perih dihati yang menetes dari matanya itu
Karena aku tahu dia takkan mampu untuk menahannya sendiri
Aku tahu tuhan..

Air mata ibu, takkan pernah menetes karenaku lagi..
Takkan, kecuali bahagia..

Friday, May 3, 2013

Rindu ini

Tidakkah kalian rindu dengan keseimbangan semesta dan senyum para petani?
Ada udara yang segar yang selalu kurindukan
Ada tawa anak-anak bersenda gurau sambil berjalan ke sekolah

Tenang...
Nyaman...

Mengharukan sembari menikmati secangkir teh panas
Ditemani musik-musik nan damai
Didampingi orang-orang tercinta
Menguatkan satu sama lain
Menebarkan senyum, di masing-masing wajah

Kunantikan datangnya masa itu..
Masa dimana berjalan tanpa sendal adalah hal yang biasa
Masa dimana membeli sebungkus nasi adalah urusan rakyat yang sepele
Masa dimana tertawa dengan tulus karena lucu tanpa muslihat

Rindu ini adalah rindu yang tak pernah ku buat-buat

Lembut berangin

Dimana bunyi itu?
Hari terlalu sendu untuk menikmati sebotol bir sendiri
Melankolis, kini berharap ada keajaiban memaknai diri dengan lainnya

Hilang arah bagai kafilah yang dahaga akan tubuh para penari
Hilang kawan bagai para penjahat yang tak lagi kenal kampung halamannya

Disini, di dalam kamar yang sedu sedan kami harap cemas menanti jawaban yang tak pernah ditemukan
Disini tetap lembut berangin seperti kemarin dan kemarin dulu

Bersetubuh

Di kamar bertembok biru ini kami berada
Menjajal tubuh satu sama lain
Berharap kepuasan akan menindih hati kami berdua
Mengharapkan ridha bejat para setan

Satu persatu kami tanggalkan
Satu kelima kami sudah telanjang
Bingung berlaku, jemari menari

Masing-masing kami melumuri diri dengan dosa
Masing-masing kami saling menghujani nafsu yang berdetak
Masing-masing kami menikmati setiap detik siksa neraka itu
Masing-masing kami........

Diantara diam

Kami bernyanyi diantara diam..
Kami tertawa karena kebodohan kalian..
Kami menangis karena kalian kejam..
Kami diam bukan berarti kalian boleh berteriak..

Kami ada diantara diam..

Jalang!

Jalang kalian!
Berteriak jalang tanpa bercermin!

Tuhannya yang maha pengasih siapa yang tahu!
Pun sama denganku, melarikan kata dari sini!