Friday, May 17, 2013

Wajah Lama

Hanya aku dan beberapa udara malam ini yang bergeming karena alunan lagu, hingga gemericik air mendatangkan penat ke kepalaku.
Terdiam beberapa menit, memejamkan mata berusaha tidur. Namun yang kudapat hanyalah gambar wajah lama dalam kepalaku.
Tetiba, hidupku begitu sedu sedan seperti sore. Para biduan2 itu pun mengubah haluan ke arah negeri melayu yang mendayu bagai rayuan pulau kelapa.
Apa aku hanya merindu, atau kembali terluka?
Apa aku hanya mencoba, atau sudah terlupa?

Tidak satupun hal yang ingin kuingat tentangnya, namun indah adalah jiwa yang merasa. Dia jujur, walaupun dihujam jutaan pedang berkarat tahun lalu. Walaupun diacuhkan dan dibuang oleh orang-orang.

Wajah lama, semestinya kau pergi berbahagia dan tak lagi mengganggu.
Aku terkenang senyummu..
Aku terkenang tawamu..
Namun seketika semua itu adalah kebohongan yang memang kau rencanakan.

Mungkin kini, nanti atau pada waktu tak terhingga kau akan beranak dan berbahagia.
Mungkin kini, nanti atau pada waktu yang tak terhingga aku akan tetap seperti ini.

Kemarin chairil bilang padaku bahwa kami adalah "binatang dari kumpulannya yang terbuang"
Aku percaya itu, melihat nanah yang dulu selalu menetes dari dada dan kepalaku. Dan demi darah yang pernah keluar dari hati yang kering, aku hanya ingin memaknai hidup ini dengan sebenar-benarnya, wajah lama.

Wajah baru nan cantik silih berganti mendatangiku, namun aku takut kepada semuanya. Kadang butuh sejuta jam untuk bisa sedikit merasa dan hanya butuh kedipan mata untuk terlupa.
Wajah lama berbahagialah kamu, aku mengharapkan terbaik, aku masih bisa tulus berdoa untukmu seperti dulu, namun belum bisa kumaafkan semua kebohongan itu.

Kau rajam percayaku yang sudah cacat.