Orang yang mengatakan keyakinan orang lain salah tanpa sebuah argumentasi itu, sudah pasti merasa dirinya sangat benar. Sementara benarnya hanya atas pandangannya sendiri, bukan atas luasnya keilmuan yang dimiliki dengan banyak pembanding dan kebesaran hati. Di sisi lain, kebenaran itu sendiri bisa di-iyakan apabila memang sudah bisa dibuktikan dengan jelas faktanya. Dengan apa? Dengan indera kita. Bahkan, jika seseorang meyakini bahwa benar Tuhannya adalah sebuah batu, kita tidak bisa menyalahkan. Karena dia benar dari pandangannya. Jika kau merasa benar, maka cukupkanlah benar itu bagimu. Jika kau merasa salah, yakinkan dimana salahmu dan perbaikilah.
Dan orang tidak layak berbicara tentang Tuhannya (ALLAH S.W.T) lah yang benar, sementara syariatnya sendiri belum berjalan otomatis, apalagi langsung membicarakan perihal hakikat.
Thursday, April 24, 2014
Salah Bagimu, Bukan Bagiku
Friday, April 18, 2014
Kini Kuingat
Kini kuingat mengapa ku membenci.
Kini kuingat mengapa ku berlari..
Kini kuingat mengapa ku mencaci..
Kini kuingat mengapa ku menyepi..
Aku ingat semua itu..
Aku ingat semua itu..
Kini kuingat mengapa mata enggan terpejam..
Kini kuingat mengapa hati terluka..
Kini kuingat mengapa jiwa merana..
Kini kuingat mengapa ku kecewa..
Aku ingat semua itu..
Aku ingat semua itu..
Ibuku
Seakan tiada berkawan..
Hidup seorang diri tiada yang menanti..
Kini raga sudah tak terasa..
Sukma bungkam dan perlahan mati..
Banyak sekali senjata tuan yang menancap.
Puan pun harap cemas menanti ku mati..
Entah derita apalagi yang ada..
Ibu disana meradang dalam sepi..
Thursday, April 17, 2014
Senja
Senja..
Kau punya cahaya nan indah..
Menembus ruang diantara rambut itu..
Kau terangi senyum di wajahnya, yang jelas berbayang padaku di hadapannya..
Senja..
Kapan kau ajarkan dia menghentikan waktu?
Detak. Kaki. Nadi. Dan pandangan.
Senja..
Kini kutahu, hidup kembali ada di udara..
Benar katanya, berlari hanya sia-sia tanpa tujuan..
Kuyakin kini ia yang menuntunku..
Menuju jalan yang benar dan dibenarkan..
Senja..
Sanjung dan puja hanya untuk pencipta kita.
Kumintakan kau sang malam, biar kalian saling melengkapi.
Semoga ku ada di dimensi waktu kau.
Mata Itu
Kulihat mata itu, di dalamnya begitu lembut.
Kulihat mata itu, di dalamnya begitu sejuk.
Tak mampu lebih dalam memandang.
Tak mampu jua tuk berpaling.
Enggan..
Mungkin..
Tak dapat kupercaya ada yang seperti itu..
Kuat dan begitu hidup dan menghidupi.
Baru namun takkan terbarukan.
Tak pernah kutahu ada yang seperti itu.
Dalamnya rindu 'tuk kembali jumpa, kuanggap telah tiada.
Hening...
Rasa-rasanya hidup kembali ada di udara.
Semua karena mata itu.
Tuesday, April 15, 2014
Dalamnya Malam, Dinginnya Hati
Hatinya bungkam, namun mulutnya banyak bicara..
Ucapannya kosong tak tercerna oleh lambung tanpa buku..
Jemari merangkai kata, hati menguntai kebohongan..
Kala kenyataan ada di depan mata, hanya air mata yang bicara..
Kau terlalu sombong untuk merasa..
Kau terlalu sedih untuk bicara..
Kau terlalu gila untuk tertawa..
Dan kau sudah tak lagi bisa menari di atas api..
Gairahmu redup disiram lautan derita..
Gemilang senyummu, kini kelam ditutup kelambu nestapa..
Semua ulahmu..
Semua salahmu..
Kau kata kau bisa..
Selangkah pun terbata..
Batu di kepala, derita di kaki..
Diam mulutmu di malam hari tanpa ludah pun setetes.
Monday, April 14, 2014
Panas Dingin Di Malam Hari Karena Kemarin Dan Esok
Saat hati menggelora, mengganggu waktu tidurku..
Saat hidup menjadi terlalu banyak warna karenanya..
Saat tak ada satupun kekurangan yang mampu kutemukan..
Saat makna sebuah kata menjadi begitu dalam dari setiap hurufnya..
Otakku ricuh ramai bagai ada ledakan mesiu di dalamnya..
Telingaku tak mampu lagi mendengar riuh teriak mereka..
Mataku sayup memandang bayang sebuah senyum..
Senyumku pun bertebaran di setiap langkah yang tertinggal..
Apa ini?
Bagaimana bisa?
Aku terlalu sadar untuk terkejut..
Namun beginilah..
Saat hati bicara, kau disana menjadi sempurna.
Walaupun sempurna bukanlah kata yang cukup untuk menggambarkan.
Namun sempurnamu adalah kata yang takkan usai dijabarkan dengan kata-kata.
Sunday, April 13, 2014
Tanpa Margin
Kau sebut ini bola milikku..
Tak memiliki sudut, banyak warna, namun beberapa sisi kuwarnai dengan dasar hitam dan putih.
Suatu saat nanti yang kau sebut bola milkku ini, akan penuh dengan warna..
Mereka yang datang selalu membantuku memberinya warna..
Ada yang di sisi hitam, adapula yang di sisi putih..
Kubiarkan seperti itu..
Kelak, masing-masing dari warna itu akan menerangi jalannya hingga ke gawang dengan kakiku..
Dan kusediakan tempat di luar yang kau sebut bola milikku ini..
Untuk sesuatu yang Tanpa Margin, dan untuk yang berbatas namun terlalu luas..
Salah besar kalau kau bayangkan kakiku hanya sebesar kaki gajah..
Dan akan menjadi kesalahan terbesar dan terburukmu, jika membayangkan yang kau sebut bola milikku ini hanya sebesar bumi..
Wednesday, April 9, 2014
Angkuh Keruh
Entah benda kasat apa yang menutupi kedua matamu itu..
Kini tak ada yang kau lihat selain cermin..
Mungkin kau menemukan itu di jalan, diantara si tamak dan si sombong..
Karena kau selalu benar, kau anggap dirimu Tuhan yang bukan pencipta..
Angkuh sikapmu, keruh keadaan hidupmu kini..