Orang yang mengatakan keyakinan orang lain salah tanpa sebuah argumentasi itu, sudah pasti merasa dirinya sangat benar. Sementara benarnya hanya atas pandangannya sendiri, bukan atas luasnya keilmuan yang dimiliki dengan banyak pembanding dan kebesaran hati. Di sisi lain, kebenaran itu sendiri bisa di-iyakan apabila memang sudah bisa dibuktikan dengan jelas faktanya. Dengan apa? Dengan indera kita. Bahkan, jika seseorang meyakini bahwa benar Tuhannya adalah sebuah batu, kita tidak bisa menyalahkan. Karena dia benar dari pandangannya. Jika kau merasa benar, maka cukupkanlah benar itu bagimu. Jika kau merasa salah, yakinkan dimana salahmu dan perbaikilah.
Dan orang tidak layak berbicara tentang Tuhannya (ALLAH S.W.T) lah yang benar, sementara syariatnya sendiri belum berjalan otomatis, apalagi langsung membicarakan perihal hakikat.