Monday, November 23, 2015

Imajinasi X Ilmu Pasti (Draft)

Dua hal yang menjadi judul tulisan ini hampir seperti hal yang bertentangan, namun tak jarang saling menopang. Suatu hal ada karena ada hal sebelumnya, suatu zat ada karena zat yang ada sebelumnya, biasa kita sebut dengan hukum sebab-akibat, mungkin ini adalah pernyataan ibnu sina (Avicenna)

Saya merasa pernah menjadi orang yang banyak tahu tentang segala hal, walau dengan keterbatasan daya ingat yang saya miliki namun saya pernah membuktikan bahwa saya pernah dikenal sebagai orang yang banyak tahu. Saya pernah menjadi orang yang selalu ingin tahu tentang yang ada di bumi yang saya pijak. Saya pernah selalu ingin tahu apa yang terjadi di masa lalu. Berkat sesuatu yang kita sebut "internet" saat ini, hampir semua yang kita ingin ketahui bisa ditemukan dan hampir tidak ada lagu tabir untuk dibuka kepada ilmu pengetahuan.

Namun semua itu hanyalah ilmu pasti, "There is nothing new in the world except the history you do not know." Begitu kata Harry S. Truman (Presiden Amerika Serikat yang ke 33). Kita sudah memasuki tahap pengembangan, padahal kita selalu butuh sesuatu hal yang baru untuk lari dari kebosanan manusia. Seorang pintar kan berkata "Inilah aku dan apa yang aku ketahui." Seiring berjalannya waktu, manusia akan semakin matang dengan apa yang ia ketahui, dengan perjalanan waktu yang ia ikuti sehingga ia menjadi bijak. Lantas saat manusia sudah menjadi Seorang bijak maka ia akan berkata "Inilah aku dengan apa yang tidak aku ketahui."

Setiap manusia yang terlahir akan selalu memiliki sifat keTuhanan baik banyak maupun sedikit, semisal dia baik, dia penyayang, dia dermawan, dia pemaaf. Tuhan juga baik, Tuhan juga penyayang dan pemaaf bahkan Tuhan adalah Maha dari segala kebaikan yang ada. Setiap kita diwajibkan semakin hari semakin banyak menyerap kebaikan Tuhan yang ada. Namun ada juga sifat-sifat Tuhan yang sama sekali tidak boleh dimiliki manusia, semisal Sombong, Sombong adalah sifat Tuhan, dalam agama saya, diajarkan dengan istilah At-Takabur (Sombong). Dengan memiliki sifat ini, kita akan mewakili Tuhan paling minimal atas diri kita sendiri, dan ini adalah hal yang tidak disukai oleh Tuhan. Tuhan itu Maha Mengetahui, dengan kata lain Tuhan itu Maha pintar, salah satu sifat ini adalah sifat yang disenangi Tuhan jika ada dalam diri insanNya. Seiring berjalannya waktu, pintar ini semakin diartikan bahwa banyak tahu maka semakin baik. Kita lupa bahwa mampu berimajinasi adalah hal yang bisa kita kategorikan pintar.

Semakin banyak yang kita ketahui tentang ilmu pasti sudah hampir pasti baik, namun saya melihat manusia semakin sulit untuk berimajinasi dan belajar tentang apa yang ada di sekitar dan sulit untuk bertanya "Apa yang belum ada? Apa yang belum terungkap?". Sudah sifat dasar manusia juga bahwa ia sangat menyukai hal yang tidak diketahui untuk mencari tahu akan kebenarannya seperti UFO/Alien, namun sifat ini pudar seiring dengan berjalannya pengembangan yang ada.

Hitler adalah otak pembunuhan massal orang-orang Yahudi yang paling sukses sepanjang sejarah yang pernah ada. Dan tetap akan seperti itu, walaupun bisa disalah pahamkan dengan segala aspek sudut pandang manusia dari kenyataan tersebut. Namun pada hakikatnya Hitler memang seperti itu baik kita ketahui maupun tidak.
Dan untuk tahu akan hal itu hanya cukup dengan membuka internet, bukan berarti tidak penting apa yang bisa dipelajari dari internet, hanya saja ruang pikir kita semakin hari semakin sempit untuk berimajinasi dengan penuhnya hal-hal seperti ini dalam kepala, yang secara tidak langsung menyesakkan hati kita untuk mampu saling memaafkan di fase pengetahuan berikutnya, tidak bisakah kita menggunakan apa yang ada dalam ilmu pasti untuk menguak rahasia yang selama ini belum terungkap? Tidak bisakah kita menggunakan yang ada dalam ilmu pasti untuk menopang penciptaan yang baru?

Lalu apa yang menjadikan imajinasi itu menjadi sesuatu yang menarik bagi saya? Jawabannya adalah ide, semakin besar ide tersebut maka akan semakin banyak mendapatkan perlawanan dari orang yang menggetahuinya. Ini adalah hukum yang saya ketahui berdasarkan pengalaman hidup saya. Terlalu banyak orang yang bermental lemah bicara tentang hal-hal yang sudah pasti ada. Dan terkadang berbicara yang belum ada adalah mengada-ada keadaan orang lain dengan kata lain gossip.

Terlepas dari itu, saya mengingat beberapa penjelasan yang disampaikan beberapa orang bijak tentang kategori-kategori ilmu yang baik. Sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang bermanfaat, sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang membawa kita kepada Ketaqwaan, sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang membuat kita tenang.
Dari sekian banyaknya pernyataan yang ada tentang pengkategorian ilmu, 3 kategori tersebut yang saya amini.


Mengapa saya bisa meyakini adanya Tuhan?
Setiap keilmuan harus dicari kebenarannya, dan standarisasai umum adalah harus bisa dirasakan oleh panca indera. Semisal, daya gravitasi bumi, kita bisa membuktikan kebenarannya dengan mampu tetap berada di bumi. Atau eksistensi udara, yang bisa kita rasakan dengan kulit kita. Namun adakah penjelasan ilmiah tentang intuisi? Intuisi ini bekerja secara nyata dalam hidup saya pribadi khususnya, walaupun tidak setiap saat, namun seringkali benar adanya, seringkali terjadi sesuai dengan yang ia bisikkan. Dari situ saya percaya dengan dimensi kasat mata yang manusia sebut dengan Tuhan maupun makhluk halus yang selalu diceritakan turun temurun bagaimanapun bentuknya (Jin/Iblis). Doa yang terjawab, "Tak ada sesuatupun terjadi hanya karena ketidak sengajaan. Karena semua adalah atas rencana dan kehendak Tuhan." Itu yang saya YAKINI. Seperti kuno, tapi memang saya begitu adanya, saya adalah orang yang meyakini hal yang seperti kuno tersebut, Teori Eksistensi Tuhan yang saya temukan sendiri, walaupun argumennya lemah, tak ada yang bisa mengubah keyakinan saya yang satu ini. Lantas berangkat dari keyakinan ini, malah semakin menciptakan nuansa keilmuan saya larut dalam ke-Esa-an Tuhan, semakin saya ingin menalar apa yang Tuhan siratkan dari setiap hal yng terjadi dalam hidup saya maupun yang sudah menghampar di alam semesta. Semakin saya ingin menafsirkan BahasaNya yang disampaikanNya melalui pergerakan semesta.

Saya sedang mendalami beberapa peristiwa alam salah satunya adalah dimensi waktu dan hukum relativitas. 

Saya buka dengan beberapa pertanyaan mengapa kita harus melompat ke depan menuju titik lain di dalam kereta yang sedang bergerak berlawanan terhadap kita? Sementara kita tidak perlu melompat maju jika melompat dari tanah menuju suatu titik di depan dengan kereta yang melaju dengan arah berlawanan?
Mengapa kita (beberapa orang yang saya tanyai meng-iyakan) merasa waktu berlalu begitu cepat saat jantung kita berdegup kencang jika kita melaluinya dengan bahagia? Mengapa waktu terasa begitu lama saat jantung kita berdegup kencang saat kita gerogi?
Mengapa bisa ada perbedaan waktu pada kondisi yang mirip bahkan sama?
Apakah ini hanyalah siklus hormonal? Yang menjadikan perbedaan sikap tanggapan psikologis kita terhadap suatu keadaan. Nyatanya peristiwa lompatan kereta itu benar adanya karena saya pernah mencobanya. Sedangkan pertanyaan berikutnya yang harus saya jabarkan lagi.

Saya pernah menonton film interstellar yang digadang gadang sebagai pemaparan hukum relativitas secara umum dan saya akui film tersebut adalah salah satu film fiksi ilmiah favorit saya selain film transcendence, back to the future atau yang lainnya. Anda akan ditunjukkan bahwa masing-masing galaksi punya gaya perputaran berbeda di film itu, yang juga mengakibatkan perbedaan dimensi waktu dari lamanya rotasi maupun waktu tempuh orbit yang terjadi di planet tersebut dalam salah satu galaksi. Berkaitan dengan peristiwa lompatan kereta api yang saya sebutkan sebelumnya, ada perbedaan hukum alam yang terjadi di setiap dimensi ruang yang berbeda yang mengakibatkan adanya perbedaan dimensi waktu. Mengapa demikian? Kaitannya adalah dengan degup jantung yang menjadikan kita lebih terfokus pada suatu hal yang menjadikan konsentrasi waktu menjadi tidak terasa dan melaju begitu cepat. Mengapa saya katakan melaju? karena saya anggap waktu adalah sesuatu yang dinamis seperti kereta yang membawa kita ke satu tujuan, dengan kata lain, jika kita terfokus pada satu tujuan, maka dinamisme/pergerakan waktu akan menjadi lebih cepat dibandingkan dengan kereta yang berjalan tanpa tujuan dengan bantuan rekayasa siklus hormonal tentunya atau euphoria rasa senang untuk lebih spesifiknya. Pertanyaannya apakah kita bisa menghentikan laju kereta ini? Dengan kata lain menghentikan dinamisme/pergerakan waktu atau bahkan mengembalikan kita kepada dimensi waktu yang telah kita lalui sebelumnya? Ini menjadi topik yang paling menarik dalam hidup saya saat ini. Karena belum ada seorang pun yang diketahui mampu memecahkan rahasia dinamisme waktu. Menurut ilmu agama waktu adalah sesuatu yang tidak bisa kita apa-apakan karena hanya kuasa Tuhan yang mampu menggerakkan atau menghentikannya. Namun dari segi ilmiah, ini adalah rahasia yang sampai saat ini belum terungkap dan sudah banyak sekali orang yang berhenti untuk menelitinya karena dianggap sia-sia.

Mengapa hamparan semesta ini begitu luas jika hanya untuk ditinggali manusia? Apakah setiap galaksi yang ada ini hanyalah ciptaan Tuhan untuk menjalankan pergerakan waktu seperti mekanisme putaran jam dinding yang di dalamnya banyak terdapat gear yang berputar untuk memutar jarum jam? Kalau memang demikian, apa yang menjadi sumber tenaga semesta jika waktu memang seperti jam? Atau mungkin setiap galaksi memiliki gear tersendiri untuk alam yang berbeda-beda. Sebenarnya banyak lagi hal yang ingin saya ungkapkan dalam tulisan ini, terutama berkaitan dengan pandangan Sufi terhadap semesta, namun ada keterbatasan norma yang harus saya jaga, karena riwayat penjabarannya yang masih perlu ditelusuri dan diperdalam lagi. Dalam hal ini saya katakan sesungguhnya semua mekanisme penciptaan semesta ada dalam diri kita. Apa yang kita ciptakan dalam hitungan waktu peradaban manusia sampai saat ini juga adalah sesuatu yang sebenarnya sudah ada dalam diri kita, tiap-tiap kita memiliki pandangan sendiri dari setiap objek, ini pandangan saya atas apa yang saya baca dan perenungan saya selama ini.

Tulisan ini tertuang, semata-mata atas perenungan dan pencarian saya secara pribadi, segala kebenaran maupun kesalahan ada, karena keterbatasan saya dalam berbagai aspek sebagai manusia.

Berpikir besarlah, maafkanlah, bersabarlah dan Cintailah Tuhan.

Cacat kata adalah biasa, cacat logika adalah yang mati.
Memaafkan adalah pengorbanan yang paling besar yang bisa dilakukan manusia, hanya yang berjiwa besar yang mampu memaafkan.
Toleransi adalah ladang kebersamaan, hanya ia yang kerdil yang tidak mampu mewujudkan toleransi itu.

Alfian Regusto Putra Syamsuddin