Monday, November 23, 2015

Selektif

Banyak kawan saya bertanya kepada saya, mengapa saya terlalu selektif dalam memilih pasangan? Mengapa lama sendiri, awalnya memang karena saya sulit untuk jatuh hati, saya tidak mudah percaya kepada orang, setiap kata saya perhatikan, perubahan psikologis lawan jenis di tiap-tiap keadaan selalu saya perhatikan, dengan kata lain saya terlalu protektif terhadap perasaan saya, dan ini saya anggap wajar.

Dulu saya tidak begitu memahami tujuan ataupun konsep utama dari suatu hubungan yang dinamakan "pacaran". Semuanya hanya seperti rasa candu kebahagiaan karena memiliki pasangan lawan jenis, untuk merasa normal dan juga menambah euphoria fase remaja dengan kisah klasik asmaranya.

Tapi setelah saya memahami konsep dan tujuan hubungan pacaran itu, bahwa untuk saling mengenal satu sama lain, membina rasa percaya, menambah standar toleransi, dan yang paling utama adalah saling terikat satu sama lain. Saya langsung mengamini dan takluk kepada apa yang saya pahami ini.

Dan kini pandangan itu mengembang. Saya akan selalu menjadi anak bagi orang tua saya. Tidak terlepas walaupun berbeda dimensi ruang ataupun waktu, saya hidup ataupun mati, saya di bumi ataupun di semesta lain, saya akan tetap menjadi anak dari orang tua saya, dan saya paham betul apa yang diinginkan seorang anak dari orang tuanya. Sebagai lelaki saya berkewajiban untuk mematangkan diri, mencukupkan segala kebutuhan juga membina keluarga yang harmonis sekarang dan nanti. Dari beberapa rentetan peristiwa yang cukup besar dalam hidup saya, membuat saya yakin kunci dari utuhnya rumah tangga adalah konsistensi dan tanggung jawab.

Dan ini alasan mengapa saya begitu selektif dalam memilih pasangan :

1. Saya melihat seorang ibu-ibu dengan tubuh besar dan terlihat tidak pernah merawat diri. Saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah saya mampu untuk tetap setia dan konsisten membina keluarga saya nantinya jikalau istri saya seperti ini?

2. Saya melihat ibu-ibu yang kasar terhadap anaknya. Saya bertanya pada diri saya, akankah saya mampu memaafkan perilaku istri saya yang mampu berlaku kasar terhadap anak saya nantinya? konsisten dan bertanggung jawab akan tugas saya untuk menjaga keutuhan keluarga saya nantinya?

3. Saya melihat ibu-ibu yang sibuk dengan kegiatan pribadinya. Saya bertanya pada diri saya sendiri, bisakah saya tetap konsisten dalam memupuk kebahagiaan dalam keluarga saya jika istri saya sanggup menelantarkan anak-anak saya nantinya?

4. Saya melihat ibu-ibu yang tidak suka memasak. Lantas saya bertanya pada diri saya, akankah saya tetap konsisten dan bertanggung jawab dalam menjaga keharmonisan rumah tangga jika nantinya anak-anak saya tidak makan masakan yang dimasak dengan cinta ibunya di meja makan setiap hari?

5. Saya melihat ibu-ibu yang tidak terpelajar. Akankah saya mampu konsisten dan bertanggung jawab untuk membina rumah tangga yang baik dan harmonis jika nantinya anak-anak saya menjadi anak yang urakan?

6. Saya melihat sosok istri yang tidak bisa menopang semangat suaminya untuk berlaku lebih bijak. Membuat saya bertanya, akankah saya mampu mempertahankan keharmonisan rumah tangga saya nantinya kalau istri saya seperti ini?

7. Saya melihat sosok istri yang terlalu tertutup akan kesahariannya dan terlalu dingin bagi keluarga yang membuat saya bertanya akankah saya mampu untuk konsisten dalam menjaga keutuhan rumah tangga saya nantinya kalau istri saya seperti ini?

7 hal fundamental bagi saya ini yang selalu tergambar dalam benak saya setiap memandang lawan jenis. Karena saya tahu batasan diri saya, dan saya hampir memahami salah satu konsep dan tujuan kehidupan kita di dunia ini, "Saya hidup untuk anak-cucu dan keluarga saya, bukan hanya untuk saya seorang."
Saya tidak pernah mencintai kehidupan saya secara pribadi, saya bahkan pernah tidak memperhatikan diri saya sama sekali, saya sudah melakukannya dalam beberapa tahun ke belakang. Namun terciptanya sudut pandang yang baru dalam diri saya ini, yang membuat saya melakukan sebaliknya. Saya lebih mencintai kehidupan saya, saya mampu memperhatikan hingga detil yang ada dalam diri saya, semuanya ingin saya kembangkan menuju kebaikan untuk anak-cucu dan keluarga saya nantinya.
Saya belajar untuk tetap fokus terhadap pandangan saya ini, karena asmara 'kan binasa dilebur panasnya dinamisme dunia, cinta kepada manusia akan memuai dipanasi waktu, namun indahnya kesetiaan dan indahnya kebersamaan yang menghasilkan kebahagiaan tidak akan pernah bisa dibeli dengan materi sebanyak apapun materi itu, saya tahu dan yakin akan hal itu.

"Behind every great man, there's a great woman." Tapi bagi saya "Even greater woman, behind every great man."

That's all.

Terlepas dari itu semua, saya sedang berusaha mati-matian untuk memperbaiki diri dari semua kesalahan atas tindakan juga keputusan yang saya ambil selama ini yang menjadikan saya saat ini sebagai sosok tidak baik bagi anak-anak saya nantinya. Menjadi laki-laki tidak semudah mendapatkan banyak wanita, menjadi laki-laki tidak semudah mampu membeli apa yang diinginkan. Pun menjadi perempuan ternyata tak semudah yang dibayangkan dan diucapkan, hargailah Wanita, hargai hidup, Cintailah Tuhan.
Inilah yang saya namakan "Konsep kelaki-lakian yang hakiki.".
Pandangan boleh jadi banyak berbeda seiring perjalanan hidup masing-masing individu, dan pandangan saya ini adalah hasil saat ini atas perjalanan hidup yang Tuhan berikan kepada saya selama ini.

Alfian Regusto Putra Syamsuddin