Wednesday, June 28, 2017

Andai Kubisa

Wahai engkau yang indah..
Jangan kau senyumi orang jahat itu,
Sementara aku mencinta sendiri.

Wahai engkau yang indah..
Jangan engkau indahkan orang jahat itu,
Sementara aku mencari sendiri.

Kala pagi ku ingat wajahmu,
Siang hari mentari membisikkan namamu.
Kala senja ku damba senyummu,
Angin malam bawa rinduku kembali ke pelukanku.

Andai engkau tahu,
Andai engkau mengerti,
Kuredam kata yang bergejolak dalam hati,
Sementara rasa kian menggelora di bumi.

Andai kubisa..

Wednesday, June 7, 2017

Prahara

Bukan rindu yang berkecamuk,
Bukan pula tanya yang meraja,
Hanyalah diri yang terlupa,
Terbang tinggi lalu tenggelam seketika.

Seakan kau hadir dalam mimpi,
Nyatanya kita pernah bersama,

Oh angin malam, marahku ini untuk siapa?
Oh ombak marah, rinduku ini untuk siapa?

Sepi menggelora bagai riuh ombak samudera!
Senja merasuk kedalam mata!
Menenggelamkan hati hanya untuk berduka.

Prahara II

Selalu kusisipkan namamu dalam doaku,
Sedikit marah menjaring noda dalam embun yang merasuk ke rongga dada..
Tak berhenti mencari rima biarpun musim berganti.
Tak kuasa menahan rindu, melawan mau, dan bertahan sendirian..

Bukan ku tak ingin dirimu,
Kau yang kini begitu asing bagi pribadiku yang begitu liarnya.
Sementara kau bersepi, aku pun teriris duka nestapa..
Andai angin bawa rinduku, kumohonkan padanya untuk menyapamu..

Engkau bukanlah yang dicari hati,
Bukan pula karena aku tak ingin,
Namun membohongi hati yang larut dalam prahara romansa hati adalah ketiadaan.

Kusematkan rinduku bagimu,
Semoga kau tak membencinya..

Biarlah prahara ini menderu debu di dalam hati.

Friday, May 5, 2017

Oh

Oh aku merindumu,
Dan enggan kuucap padamu,
Hingga ku marah pada diriku sendiri,
Oh aku merindumu.

Oh aku marah pada diriku sendiri,
Merindumu buatku seakan tiada berkawan.
Meratapi waktu yang berlari pergi,
Melata di dinding hari

Oh aku yang merindumu,
Janganlah engkau ratapi jemari itu,
Tiada indah jika tiada mencari,
Janganlah berdiam sendiri.
Esok hari kan datang.

Sunday, April 23, 2017

Kesaksian Pagi

Kala mata kupejamkan pada malam itu,
Menanti fajar yang dijanjikanNya.
Kurasa detik adalah masa dalam secangkir kopi,
Senantiasa membuat kita terjaga.

Kala mata ini kubuka lebar pada malam itu,
Masih pula menanti fajar yang dijanjikanNya.
Seperti angin yang berhembus di lautan sepi,
Senantiasa menyeka debu di hamparan lantai.

Kupandangi sekitarku dengan seksama,
Kutatapi satu potret di atas meja,
Yang sudah menjadi buku,
Yang meratapi kesedihan manusia,
Yang memahami kegelisahan manusia,
Yang membawa cahaya bagi manusia.

Yaa Allah,
Aku bersaksi tiada Tuhan selain Engkau,
Aku menghamba kepadaMu,
Maka tuntunlah Hamba menjadi yang baik,
Maka tuntunlah kami menujuMu,
Negeri yang Engkau janjikan bagi orang yang baik,
Negeri dimana Hamba bertemu denganMu.

Thursday, April 13, 2017

Merajut Sepi

Satu demi satu hari kurajut,
Bukan bahannya yang tak bagus,
Hanya tanganku yang belum mahir.

Satu demi satu bulan kurajut,
Bukan bahannya tak bagus,
Hanya tanganku yang belum mahir.

Kini baju itu sudah ada banyak,
Bukannya kupakai, malah kubuang.
Bukan karena jelek,
Namun aku takut untuk memakai yang tidak baik.

Satu demi satu Tahun kurajut,
Bahannya cukup baik,
Hanya tanganku yang belum mahir.

Kini baju itu kupakai,
Bukan untuk menutup malu,
Hanya sekadar penghangat dikala dingin,
Mungkin kelak kan memaki.

Penyesalan

Oh egkau yang datang terlambat,
Tega nian kau membuat kami begini.
Terhempas di utara dan selatan sendiri.
Tiada orang untuk berbagi sembari menanti.

Oh engkau yang datang terlambat,
Sudah kuduga engkau pasti kan datang,
pasti terlambat pula,
Entah mengapa sudah pasti kau kuundang.

Oh engkau yang datang terlambat,
Sudah kuseka kirab raut wajah yang bergemuruh.
Tak pula engkau lihat dan tak pula engkau segera pergi.
Sudah pasti kau bukan teman yang baik.

Oh engkau yang datang terlambat,
Kini hanya ada engkau dan aku,
Temani aku, jangan tanya hingga kapan,
Karena mungkin hingga kumati.

Monday, April 3, 2017

Kaum Pelupa

Tega betul manusia sampai bisa berpikir bahwa bumi ini adalah miliknya.
Tak dilihat Laut, Angin, Gunung dan yang bernyawa.
Sudah jelas kadarnya manusia di bumi ini.
Bukan karena mereka tak berkehendak lantas kita tindas.
Kita harus belajar ikhlas di Bumi ini.
Kita harus menjadi manusia untuk bisa menjadi pemimpin yang baik.
Kita harus kuat saat yang Maha Berkehendak sudah berkehendak, walau terkadang asing dan tak terdengar.

Oh Angin, maafkan kami yang lupa.
Oh Gunung, maafkan kami yang lupa.
Oh Laut, maafkan kami yang lupa.

Sebegitu angkuhnya kami yang enggan hidup berdampingan dengan kalian,
Bukan karena hebat melainkan kebodohan yang melalaikan.

Wahai Angin, kami pun anak seperti kalian.
Wahai Gunung, kami pun belajar seperti kalian.
Wahai Laut, kami pun berlatih seperti kalian.

Kami meminta,
Izinkan kami, sekali lagi duduk berdampingan dengan kalian di HadapanNya.

Saturday, February 11, 2017

Luna

Bukan sekedar kata saat kusebut bulan malam ini begitu indah..
Bernaung di dalam sejuknya sapa angin dari utara..
Membasuh peluh dan sesah yang sudah berjelaga dalam dada..
Tidak pula dapat kubendung syukur yang ada,
Tulusnya tiada terkira.

Begitu harmoni padu padan tanpa gegap gempita di malam ini..
Kesunyian yang begitu merdu mengiringi alunan rindu..
Haru yang begitu meriah meriuhkan suasana damai..
Sedikit kilat tak mengganggu,
Walaupun kian kali geludug bergemuruh..

Ini bukan misteri diantara rangkaian kata dalam buku semesta.
Hanya sebulir kenangan manis di suatu suasana.